Sahabat pena mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah

  • CONTOH SURAT MOU MEDIA PARTNER

    Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk para pembacanya.. jangan lupa tinggalkan jejak (komentar/follow) selamat membaca :)

  • METODE PEMBELAJARAN TUTORIAL

    Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk para pembacanya.. jangan lupa tinggalkan jejak (komentar/follow) selamat membaca :)

  • PROBLEMATIKA PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH DAN PEMBANGUNAN

    Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk para pembacanya.. jangan lupa tinggalkan jejak (komentar/follow) selamat membaca :)

  • CONTOH INSTRUMEN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN

    Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk para pembacanya.. jangan lupa tinggalkan jejak (komentar/follow) selamat membaca :)

  • CONTOH LAPORAN KPL DI UPT PELATIHAN KERJA PASURUAN

    Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk para pembacanya.. jangan lupa tinggalkan jejak (komentar/follow) selamat membaca :)

MAKNA HIDUP SESUDAH MATI

BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

topik hari kebangkitan dan hari akhir selalu membuahkan banyak spekulasi. Manusia ingin mengetahui kapan hari tersebut akan terjadi, bagaimana akan terjadi, apa pengaruhnya bagi manusia, dan apakah hal-hal tersebut memang akan terjadi atau tidak.
Cara pandang manusia terhadap dua topik ini mempengaruhi cara kita menjalani hidup. Kita ingin tahu kenapa kita diciptakan. Kita mengerti dari kehidupan sehari-hari kita bahwa tidak ada sesuatu pun yang ada tanpa tujuan. Karena kita ada, maka keberadaan kita pasti mempunyai tujuan. Tapi apa tujuan itu? Bagaimana kita dapat menemukanya? Dan setelah kita menemukanya, apa yang seharusnya kita lakukan?.
Pada tataran yang tidak begitu abstrak, penerimaan dan penolakan kita akan hari kebangkitan dan hari akhirat mempengaruhi cara kitabertikngkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak ada pengadilan dan kehidupan kembali, apa manfaat kejujuran, kebaikan kepada orang lain, perhatian terhadap kesenangan oang lain, dan usaha untuk hidup lurus? Tanpa pengadilan di hari akhir, tentu tidak ada pahala atau hukuman. Jadi keputusan yang paling masuk akal adalah memanfaatkan hidup kita di dunia ini sebaik-baiknya dan berhati-hati. Kenapa kita khawatir terhadap konsekuensi abadi jika konsekuensi itu sebenarnya tidak ada.
Menurut Islam, hidup manusia tidak bermakna tanpa hari kebangkitan. Apa makna ujian kalau pahala atau hukumanya tidak diberikan sepenuhnya? Bagaimana bisa ada tujuan jika manusia dilahirkan, hidup, lalu mati dan perbuatan-perbuatanya tidak diadili? Dimana letak keadilan jika semua orang diperlakukan sama? Namun, dunia materi yang sementara ini tidak dapat mewujudkan pahala dan hukuman sepenuhnya, karena yang sementara tidak bisa mengandung keabadian. Oleh karena itu, harus ada alam lain tempat diwujudkanya pahala dan hukuman itu sepenuhnya. Alam lain itu adalah alam akhirat, yang hanya dapat kita capai bila Allah membangkitkan dan mengadili kita.


A. Rumusan Masalah

1.      Apa makna Eksistensi dan kehidupan?
2.      Apa manfaat iman kepada hari kebagkitan dan alam akhirat?
3.      Bagaimana argumentasi rasional, ilmiah, teologis, dan menurut Al-quran tentang hari kebangkitan dan alam akhirat?
4.      Apa makna eksistensi Roh?
5.      Bagaiman iman kepada hari kebangkitan dan kehidupan sesudah mati secara universal?
6.      Bagaiman eskatologi dalam islam tentang peritiwa-peristiwa dan keadaan akhirat?

B. Tujuan 

1.      Mengetahui makna eksistensi dan kehidupan
2.      Mengetahui manfaat iman kepada hari kebangkitan dan alam akhirat
3.      Mengetahui argumentasi rasional, ilmiah, teologis, menurut Al-quran tentang hari kebangkitan dan alam akhirat
4.      Mengetahui apa makna eksistensi roh.
5.      Mengetahui iman kepada hari kebangkitan dan kehidupan sesudah mati secara universal.
6.      Mengetahui eskatologi dalam islam tentang peritiwa-peristiwa dan keadaan akhirat.

BAB II

PEMBAHASAN


A. Makna Eksistensi dan Kehidupan

Said Nursi, salah satu pemikir terbesar abad ke-20 mengemukakan argument berikut tentang keesaan dan eksistensi tuhan. Ada dua cara untuk menerangkan bagaiman sebuah biji yang berada di bawah tanah tumbuh menjadi tanaman atau pohon yang rindang, dan bagaimana satu sperma dan sel telur tumbuh menjadi seorang manusia. Pertama, setiap partikel yang tak terbilang yang beroperasi di dalam proses pertumbuhan secara individu tahu tempat, fungsi, dan lingkunganya serta hubunganya dengan semua partikel sel dan keseluruhan yang lebih besar dari organisme itu sendiri. Kedua, sesuatu yang mempunyai pengetahuan yang luar biasa dalam hal ini menggunakan pengetahuan tersebut di dalam proses pertumbuhan dan pembentukan makhluk hidup maupun makhluk tak hidup.
Tubuh manusia adalah sebuah keajaiban yang simetris dan asimetris. Para ilmuan mengetahui bagaimana embrio tumbuh di dalam Rahim untuk membentuk kesimetrisan dan ketidaksimetrisan tersebut. Selain itu semua makhluk hidup terbuat dari elemen yang sama (tanah, air, dan udara), tetapi mereka bisa berbeda didalam hal ciri-ciri fisik,wajah, karakter, keinginan, dan ambisi. Kemungkinanya adalah masingmasing partikel melakukan dengan sendirinya atau penciptalah yang melakukanya.
Argument ini, seperti yang sering ditekankan oleh Said Nursi, akan tidak menarik lagi jika kita menolak: “karena segala sesuatu terjadi sesuai dengan progam tertentu dan prinsip sebab akibat, kenapa sebuah partikel perlu tahu tentang semua informasi ini?” tetapi penolakan semacam itu berarti percobaan untuk mencari penjelasan atas eksistensi dari dalam eksistensi. Ini tidak bisa diterima karena pencarian semacam ini tidak menerangkan bagaimana penciptaan pertama terjadi.
Ilmu pengetahuan matereialistik, mereflesikan eksistensi dari dalam dan ia terpesona oleh keteraturan alam raya yang nyata. Segalanya tampak terjadi sesuai dengan prinsip-prinsip tertentu dan hukum sebab akibat.
Ilmu pengetahuan materialistik yang menghubungkan kretivitas  pada sebab (kausalitas) menganggap alam sebagai mekanisme tanpa ada nilai dan benda yang melekat, sehinga ilmu ini memisahkan sebuah benda dengan cara memotongnya dari hubungan-hubungan benda itu dengan bagian lain dunia ini.
Jika kita menganggap materi adalah sumber atau awal eksistensi, kita harus menerima bahwa materi yang nirnyawa, buta, tuli, bisu, dan tidak berilmu itu mempunyai pengetahuan yang menyeluruh. Menurut fisika klasik dan fisika baru, materi dapat diubah dan rentan terhadap intervensi dari luar. Jadi tidak bisa kekal atau mampu menjadi sumber sesuatu.
Para penganut materialisme mengajak kita percaya bahwa alam raya ini adalah hasil sebua kebetulan, hasil ketidakteraturan dan kesemerawutan, hasil dari sebuah ketidaksengajaan. Kemudian mereka meminta kita untuk percaya bahwa alam ini terjaga oleh sebab-sebab yang saling mempengaruhi secara mekanistis.
Kesempurnaan eksistensi suatu hal ada melalui hidup. Selain itu, hidup adalah dasar nyata dan cahaya eksistensi. Hidup juga menjadi pondasi segala hal yang menyelaraskan segala hal untuk setiap makhluk hidup. Makhluk hidup mengaku dunia ini sebagai rumahnya, dan seluruh alam semesta ini miliknya yang dianugerahkan oleh pemberi hidup. Hidup begitu misterius dan sukar dipahami. Bahkan, hidup tumbuhan, tingkat kehidupan yang paling sederhana, dan bangkitnya kekuatan hidup sebuah biji pada awal kehidupan tanaman pun tidak dapat dipahami dengan sepenuhnya.
Perbedaan yang jelas tetapi sering diabaikan antara manusia dan jenis lain kehidupan memberi kita pelajaran. Di bumi ada empat kelompok yang memenuhi dan bekerja untuk tujuan besar yang sempurna :
1.      Benda mati, termasuk partikel sub-atom, atom, molekul dan elemen. Mereka memenuhi tujuan universal dengan cara rumit yang menakjubkan tanpa mengetahui apa yang mereka lakukan atau mengapa mereka melakukanya.
2.      Tanaman. Mereka mempunyai beberapa tingkat kehidupan dan mengabdi pada binatang dan manusia sebagai makanan.
3.      Binatang. Mereka melaksanakan tugas berdasarkan kemampuan mereka.
4.      Manusia. Mereka tahu apa yang mereka lakukan, mengapa dan untuk siapa mereka melakukanya, serta mengapa orang-orang lain bekerja.

Makhluk melalui penciptaanya, kelemahan dan ketidakpastianya, juga melalui ketergantunganya pada faktor-faktor di luar dirinya, menunjukan bahwa mereka berhutang eksistensinya ini pada Dzat yang mutlak ada, menciptakan dan mempunyai kuasa atas segala sesuatu. Melalui kefanaanya dan kematianya serta digantinya oleh yang lebih muda, mereka menunjukan kekekalan Dzat tersebut. Jadi, apapun yang ada dan terjadi adalah hasil dari manifestasi Asma-asmaNya yang relevan.
Dengan demikian, tidaklah benar atau tidaklah masuk akal bagi manusia untuk menyia-nyiakan hidupnya dengan memuaskan nafsu-nafsu jasmaniah yang fana dan mengejar kesenangan-kesenangan duniawi yang sekejap saja. Hidup harus diabdikan demi pencarian untuk menyadari tujuan yang dipikulkan kepada hidup itu sendiri oleh sang pemberi hidup.


B. Manfaat Iman Kepada Hari Kebangkitan Dan Alam Akhirat

Allah Sang Pencipta Yang Maha Pengasih dan Penyayang telah menciptakan dunia ini dalam wujud sebuah festival, sebuah tempat perayaan dan pameran. Dia telah menghiasinya dengan tulisan yang sangat luar biasa dengan sifat-sifatnya (Asmaul Husna), dan menghiasi roh dengan jasmani yang memiliki indera yang sesuai dan cocok yang memungkinkan individu memperoleh manfaat dari hal-hal baik dan penghargaan di dalam festival tersebut. Dia mengirimkan setiap roh tersebut kedalam kedalam festival ini sekali.
Manifestasi rahmat, kasih sayang, dan kemurahan Allah di dalam festival ini diimbangi oleh sifat-sifat yang maha gemilang, maha menghasncurkan, dan yang menyebabkan mati melalui kematian dan perpisahan. Hal ini tampaknya tidak selaras dengan semua rahmat yang diekspresikan dalam rahmat-Ku meliputi segala sesuatu (7:156).
Dunia terus-menerus disemarakkan melalui ciptaan dan kehendak, dan terus memusnahkan kehidupan melalui siklus ciptaan, ketentuan, dan kebijaksanaan lain. Kematian bukanlah kepunahan, tetapi sebuah gerbang menuju kehidupan yang lebih baik, lebih maju dan lebih murni.
Al-Qur’an menyebutkan kematian sebagai sesuatu yang diciptakan dan oleh karenanya memiliki eksistensi (67:2). Ketika ajal menjemput raga, sepertinya kehidupan akan berakhir. Tetapi, realitanya, makhluk hidup tersebut diangkat ke tingkat yang lebih tinggi. Kematian sebagai tanaman, tingkat kehidupan yang paling sederhana, adalah kekuasaan Allah, sepertihalnya kehidupanya, tetapi manusia jauh lebih sempurna dari pada tumbuhan. Karena manusia merupakan ciptaan tertinggi, kematian mereka harus lebih sempurna dan pasti memiliki tujuan yang lebih besar. Setelah manusia mati dan dikubur, mereka pasti akan dibawa ke dalam kehidupan kekal.
Kematian adalah sebuah rahmat bagi umat manusia karena beberapa alasan, diantaranya:
1.    Membebaskan kita dari kesengsaraan hidup, yang semakin meningkat sejalan dengan usia kita.
2.    Kematian membebaskan kita dari kehidupan duniawi yang sama seperti penjara bawah tanah yang sempit, bergolak keras dan menekan.
3.    Usia tua dan kondisiyang tak tertahan lagi diakhiri oleh kematian.
4.    Tidur membawa ketenangan dan perasaan lega, seperti halnya kasih sayang, khususnya untuk orang-orang yang sakit dan sengsara.
5.    Karena kematian adalah rahmat bagi orang-orang yang beriman.
6.    Allah menjelaskan hakekat sejati diri dunia dan kehidupan di dalamnya, dan mengingatkan kita bahwa cinta kita kepada salah satu atau keduanya adalah sia-sia.


Iman kepada akhirat merupakan dasar kehidupan umat manusia dalam masyarakat ataupun individu, fondasi untuk semua kebahagiaan dan kasih sayang, karena setelah iman kepada Allah, iman kepada hari akhir berperan dalam melindungi sebuah tata sosial yang damai. Apabila kita tidak percaya bahwa kita akan dipanggil untuk memperhitungkan amal perbuatan kita, mengapa kita diharuskan menjalani hidup dengan jujur dan benar. Tetapi, apabila kita berbuat menurut keyakinan bahwa kita harus menjalankan perhitungan amal perbuatan, kita akan hidup dengan taat dan benar. Al-Qur’an menyebutkan:
 “kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukanya. Tidak luput dari pengetahuan tuhanmu biarpun sebesar zarroh (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh) (10-61).
Iman kepada hari kebangkitan menjadikan sebuah rumah menjadi sebuah taman surga. Iman kepada hari kebangkitan mengingatkan setiap orang atas tanggung jawab mereka satu sama lain, dan menciptakan indahnya saling mencintai, menyayangi, dan menghargai.
Iman kepada hari kebangkitan juga membawa kepada saling mencintai dan penghargaan yang paling mendalam kepada suami atau isteri. Cinta yang berdasarkan kecantikan fisik besifat sementara, sehingga rendah nilainya. Biasanya akan pudar sesaat setelah pernikahan. Apabila keidupan keluarga didasarkan pada keimanan terhadap hari kebangkitan, para anggota keluarga akan merasa seakan-akan mereka tinggal di surga. Apabila tatanan sosial suatu Negara berdasarkan keimanan terhadap hari kebangkitan dan hari pengadilan, kehidupan di Negara itu akan jauh lebih baik dari pada kehidupan yang dibayangkan Plato dalam republic-nya atau Al-farabi dalam Al-Madina al-Fadila (kota kebaikan). Negara itu akan mejadi madinah pada masa nabi, atau Negara muslim di bawah kepemimpinan Umar.

C. Argumentasi Rasional, Ilmiah, Teologis, Menurut Al-Quran Tentang Hari Kebangkitan Dan Alam Akhirat

Hampir semua agama setuju bahwa suatu hari akan datang dimana dunia akan binasa dan dibangun kembali, dan mayat-mayat dibangkitkan menuju kehidupan lain yang abadi. Namun demikian, di bawah pengaruh matrealisme ilmu pengetahuan Eropa, yang muncul pada abad ke-18 dan merasuki hampir semua lingkup ilmu pengetahuan pada abad ke-19, sekarang banyak orang yang meragukan atau menolak keyakinan ini.
Menurut logika, eksistensi sesuatu terbentuk ketika suatu zat ditemukan, sedangkan penyangkalan atau penolakanya membutuhkan penyelidikan melintasi waktu dan ruang. Lebih dari 100.000 Nabi telah datang, dan semua menyampaikan pilar keimanan yang sama, termasuk keimanan terhadap hari kiamat dan kehidupan sesudah kematian. Bahkan di dunia ini, dimana materialisme ilmiah tersebar luas dan mendominasi lingkaran ilmu pengetahuan, jumlah orang yang memeluk agama dan beriman terhadap kehidupan sesudah kematian adalah lebih besar dari yang mengingkarinya. Penolakan atau skeptisme terhadap kehidupan sesudah mati tidak obyektif, karena tidak ada orang skeptis (atau ateis atau anogtis) yang dapat menggunakan ilmu pengetahuan untuk membuktikan secara obyektif bahwa skeptisme bersifat ilmiah atau bahwa tidak ada kehidupan sesudah kematian.
1. Argumetasi Rasional
Renungkan analogi berikut ini: dalam perjalanan, anda menjumpai sebuah penginapan untuk para kafilah yang dibangun oleh orang hebat. Penginapan itu dihiasi dengan hiasan yang paling mahal agar menyenangkan dan memikat para tamu sepanjang malam mereka menginap. Mereka hanya bisa menyaksikan sebagian kecil saja, karena mereka sesaat saja tinggal di penginapan itu. Setelah sejenak merasakan kenikmatan yang disuguhkan, mereka melanjutkan perjalanan dengan kekecewaan namun demikian, abdi orang hebat itu sibuk mencatat perilaku setiap tamu dan menyimpan catatan tersebut. Juga anda saksikan dekorasi yang paling menakjubkan itu diganti setiap hari dengan yang baru untuk para tamu yang baru datang.
Setelah menyaksikan semua ini, masih adakah keraguan bahwa pembuat penginapan untuk para kafilah itu pasti memiliki tempat tinggal indah yang permanen, harta benda yang tidak ada habisnya, limpahan kedermawanan yang tiada batas? Melalui kedermawananya yang ditunjukan disini, dia hanya bertujuan membangkitkan gairah para tamunya atas sesuatu yang tersedia dalam kehadiranya yang hanya sebentar, untuk membangunkan keinginan mereka atas hadiah-hadiah yang telah dipersiapkan untuk mereka.
Apabila anda renungkan dunia ini, anda akan mengerti hal-hal berikut:
a.       Dunia ini, layaknya penginapan untuk para kafilah, tidak eksis untuk dirinya sendiri.
b.      Orang-orang yang tinggal di dalamya adalah tamu, diundang oleh sang dermawan ke tempat tinggal yang damai.
c.       Hiasan-hiasan dunia berada disini tidak untuk kenikmatan atas kepuasan anda, karena kesenangan sesaat semacam itu mengakibatkan derita berkepanjangan manakala mereka menghilang.
d.      Hiasan di dunia ini ibaratnya contoh dan bentuk yang mewakili rahmat yang tersimpan di surga, oleh Kekuasaan Yang Maha Kaya, untuk orang-orang yang taat dan berprilaku baik.
e.       Benda-benda sesaat ini tidak diciptakan  untuk non-eksistensi, untuk muncul sekejap kemudian lenyap.
f.       Manusia belum pernah dibiarkan untuk mengembarakan keinginanya.
g.      Kematian semua makhluk di musim gugur, yang sebelumnya mereka terlihat di musim panas dan semi tidak membawa mereka kepada noneksistensi.
Tidak ada sesuatupun dalam eksistensi yang sia-sia; makhluk yang tidak berbuat apa-apa adalah sia-sia. Tuhan menciptakan umat manusia untuk berbagai tujuan yang hati-hati, dengan tidak membiarkan mereka tetap tinggal di dalam tanah selamanya, akan membangkitkan semua orang dalam dunia yang kekal. Sebagaimana Dia menyimpan satu buah dalam ingatan dan melalui biji-bijinya, dan sebagaiman Dia mengembalikannya seperti pergantian musim setelah Dia memperkenalkannya pada tingkaat kehidupan yang paling tinggi di dalam jasad seekor binatang atau seorang manusia, jadi Dia akan memperkenalkan umat manusia ke tingkat kehidupan yang lebih tinggi di dunia lain setelah kebinasaan total seseorang ini.
Tuhan menciptakan manusia bukan dari sesuatu. Setiap manusia unik, karena mereka tidak memiliki bagian pra-eksistensi di dunia ini. Dia menciptakan setiap tubuh manusia dari tanah, udara, dan air, dan kemudia mengubah mereka menjadi makhluk pintar yang berakal. Bukankah logis mengatakan bahwa pembuat sebuah mesin dapat merusaknya dan kemudian menyusunnya kembali secara sempuran, atau bahwa seorang komandan dapat mengumpulkan pasukanya yang berpencar dengan tiupan sebuah terompet?
Pembangkitan kita semudah hal ini. Tuhan Yang Maha Kuasa yang akan mengumpulkan setiap atom individu, tidak peduli di mana pun mereka berada, dan menjamin mereka wujud kehidupan abadi yang lebih mulia : katakanlah:
“berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaiman Allah menciptakan
(manusia) dari permulaanya, kemudian Allah menjadikan sekali lagi. Sesungguhnya
Allah maha kuasa atas segala sesuatu (29:20); katakanlah: “ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakanya kali yang pertama (36:79); Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan
(menghidupkanya) kembali, dan meghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagiNya (30:27).
2. Argumentasi ilmiah
Ilmu pengetahuan “berjalan” berdasarkan teori-teori akan berkembang melalui uji coba teori-teori tersebut. Banyak fakta-fakta ilmiah yang akhir-akhir ini dianggap salah, sepertihalnya fakta-fakta ilmiah sebelumnya, sekarang diketahui sebagai konsepsi yang salah. Juga, kita menerima eksistensi banyak hal meskipun kita tidak dapat membentuk eksistensinya secara ilmiah.
Sepanjang sejaarah, banyak orang percaya kepada kehidupan sesudah mati. Sehingga, akan tampak lebih alamiah untuk memungkinan eksistensinya dalam teori dan menyelidikinya. Menyangkalnya berarti tidak alamiah, karena penyangkalan semacam itu merupakan suatu kesimpulan yang harus didasarkan pada bukti konkrit. Tidak ada seorangpun yang dapat membuktikan dan secara ilmiah mengklaim noneksistensi kehidupan sesudah mati, atau bahwa hari kiamat tidak akan terjadi.
Para ilmuan materialis telah menganggap tidak mungkin terjadai penghidupan kembali, dan menganggap hari kiamat sia-sia saja dibicarakan secara ilmiah. Perubahan pertama dilakukan oleh Antoine Laurent  Lavoisier, ilmuan Prancis yang terkenal dan penemu ilmu kimia modern. Dia membantah teori-teori sebelumnya dengan membuktikan kepuasan dirinya sendiri serta kepuasan ilmu pengetahuan sezamanya bahwa kuantitas dan massa total suatu benda di dunia ini tidak berkurang atau bertambah.
Penemuan radioaktif  dan tranformasi zat menjadi energi, kemajuan penting kedua dalam bidang ini, menyebabkan teori Lavoisier dimodifikasi. Namun demikian, teori itu tetap valid sepanjang kekekalan suatu benda/zat dan energi diperhatikan. Meskipun aksi dan reaksi kimia menyebabkan zat berubah bentuk dan ukuran, tidak ada elemen yang hilang. Yang kita lihat dan ketahui adalah suatu kumpulan berbgai makhluk yang memiliki kualitas yang mungkin berubah. Pemahaman baru semacam itu menyebabkan teori tentang kekekalan zat menggantikan hukum sebelumnya dan menjelaskan secara lengkap semua perubahan dan tranformasi zat.
Selain perkembangan-perkembangan ini, riset terhadap fenomena semacam itu seperti pengalaman-pengalaman spiritual pengalaman-pengalaman dan penglihatan menjelang kematian (dikenal sejak zaman kuno), juga transkomunikasi instrumental dan fenomena suara elektronik, dengan jelas menunjukan adanya kehidupan sesudah mati.
Orang-orang yang memiliki suatu pengalamn spiritual biasanya mendapatkan keselamatan setelah kematian. Mereka tahu mereka kembali ke jasad fisik mereka karena wujud duplikat mereka yang tidak kasat mata tetap berhubungan denganya karena adanya sebuah kabel perak. Ketika kabel perak ini terputus, maka wujud yang tidak kasat mata selamat di akhirat.
Apabila kita dapat memilih antara kehidupan abadi yang penuh kesengsaraan dan non-eksistensi abadi setelah kehidupan mewah yang hanya sekejap, sebagian besar mungkin akan memilih pada pilihan pertama. Bahkan kita lebih memilih eksistensi abadi di nereka dari pada non-eksistensi abadi. Tuhan Yang Maha Pemurah dan Yang Maha Bijaksan, tidak menakdirkan kita kepada non-eksistensi abadi, atau memberikan kepada kita suatu keinginan terhadap keabadian sehingga kita akan merasakan keinginan tulus yang tidak dapat kita puaskan. Dengan demikian kebijaksanaan tuhan  membutuhkan eksistensi sebuah dunia abadi dimana kita akan hidup kekal di dalamnya.
Dunia ini tidak benar-benar berprospek baik untuk suatu perkembangan potensi manusia, kita ditakdirkan mencapai realisasi di dunia lain. Esensi komprehensif kita berupaya bahwa kita dapat menuju keabadian. Sifat mulia kita pada dasarnya memungkinkan kita melakukan kebaikan maupun kejahatan. Karena tata tertib dan disiplin penting sekali, maka kita tidak dapat ditinggalkan begitu saja atau ditakdirkan menuju kemusnahan abadi. Neraka sedang menunggu kita dengan mulut terbuka; Surga sedang mengharapkan kita dengan tangan terbuka. 

3. Argumentasi Teologis
Iman kepada Allah mengharuskan adanya iman kepada kehidupan sesudah
kematian karean alasan-alasan berikut ini:
Allah bersifat Maha Agung, Penguasa Abadi membutuhkan sifat Maha Abadi itu. Keagungan Allah yang terlihat dalam setiap perubahan musim, orbit tertinggi planet-planet, keteraturan segala sesuatu, penciptaan bumi sebagai tempat tinggal dan matahari sebagai lampunya, dan transformasi-transformasi yang dahsyat seperti menghidupkan dan menghias bumi yang kering dan mati-semua menunjukan bahwa Allah Yang Maha Tinggi dan Sang Kuasa Yang Maha Agung mengaturnya dari balik tabir semua yang terlihat.
Allah bersifat Maha Pemurah dan Yang Maha Penyayang  memerlukan sifat Maha Pemurah itu. Bercerminlah pada hal ini: bukankah semua makhluk hidup diberikan makanan dan minuman yang layak? Yang paling lemah dan tidak berdaya pun mendapatkan makanan dan minuman terbaik. Semakin lemah dan tidak mampu suatu makhluk, maka semakin baik makanan dan minuman yang diberikan. Misalnya, selama tahap kehiduan pertama, kita mendapatkan makanan dan minuman dengan cara terbaik dan tanpa susah payah.
Allah bersifat Maha Kaya dan Yang Maha Pemurah wajib memiliki sifat
Maha Kaya. Seorang rahib bertanya kepada khalifah ‘Abasyiah Harun al-Rasyid: “Jika anda sangat membutuhkan segelas air, apakah anda akan memberikan kerajaan anda sebagai imbalanya?” Khalifah tersebut menjawab dia akan memberikanya. Sang rahib kembali bertanya: “Apabila anda tidak bisa melaksanakanya sendiri, akankah anda menyerahkan kerajaan anda sebagai imbalan? Khalifah menjawab dia akan menyerahkanya. Sang rahib menympulkan “Dengan demikian semua kekayaan dan kerajaan hanyalah satu gelas air.”
Allah Maha Pengasih dan sifat Maha Penyayang memerlukan sifat Maha Pengasih. Kasih sayang Allah menyembuhkan sakit, hati dan perasaan yang terluka. Tanpa kasih sayang itu, anda tidak dapat menghentikan luka yang berdarah. Kasih sayang membantu manusia dan binatang pada semua tahap kehidupan mereka, khususnya sebelum dan sesudah kelahiran. Rasa kasih sayang setiap orang tua merupkan manifestasi tunggal dari kasih sayang Allah.
Allah Yang Maha Bijaksana dan Maha Adil membutuhkan sifat Maha Bijaksan dan Adil. Yang mengatur dunia ini dengan sedemikian  serasinya selaras dengan kearifan yang tiada batas. Hal ini terlihat dalam betapa penting dan bermanfaatnya semua hal yang dimanifestsikan. Bukankah anda pernah melihat betapa banyaknya tujuan-tujuan bijaksana yang diberikan oleh setiap badan, tulang, dan syaraf di dalam tubuh seorang manusia, oleh setiap sel otak dan setiap partikel di dalamnya? Tujuan sangat banyak sebanyak buah-buahan pada sebuah pohon, yang meyakinkan bahwa semuanya diatur sesuai dengan kebijaksanaan yang tiada batas. Bukti lainya adalah keselarasan yang luar biasa yang denganya segala sesuatu telah diciptkan.
Allah Yang bersifat Maha Sempurna dan Maha Indah memerlukan sifat tersebut. Dengarkan burung-burung yang berkicau di pagi hari musim semi, suara gemericik sungai kecil yang mengalir diantara lahan hijau atau lembah yang dalam. Lihatlah keindahan padang rumput yang hijau dan pepohonan yang sedang bersemi yang luar biasa indahnya. Amati matahari yang terbit atau terbenam, bulan purnama di malam yang cerah dan langit yang tanpa mendung. Semua ini dan banyak lagi pemandangan lain yang membuktikan adanya sebuah kesempurnaan yang tersembunyi yang menakjubkan dan keindahan yang luar biasa yang tiada tara, seperti halnya sinar matahari membuktikan eksistensi matahari.
Allah bersifat Maha Iba (belas kasih) dan Penjawab Doa memerlukan sifat itu. Allah adalah penguasa belas kasihan dan kasih sayang yang tiada batas, yang paling sabar memenuhi kebutuhan terkecil dari makhluk terkecilNya yang paling tersembunyi dan menanggapi semua permintaan yang terucap maupun tidak terucap. Bagaimana mungkin Dia tidak mengabulkan permohonan terbesar dari hambaNya yang paling mulia dan makhluk yang paling dicintaiNya? Bagaimana Dia tidak mendengarkan dan mengabulkan doa yang paling mulia seorang hamba? Keinginan yang dimanifestasikan dalam pemeliharaan binatang-binatang kemah dan masih bayi menunjukan bahwa Sang Penguasa Rasa Iba menggunakan sifat PenguasaNya dengan rasa iba atau belas kasihan yang tiada batas.
Allah yang bersifat Maha Mencatat dan Memelihara memerlukan sifat itu. Karena banya benda dan media yang yang memiliki suara dan wujud, pasti demikian pula dengan segala sesuatu yang mencatat dan memelihara. Ini memungkinkan kita mencatat dan menyimpan informasi penting. Yang berarti bahwa Sang Penguasa adalah Satu-satuNya yang Maha Mencatat dan Memelihara, dan apapun yang terjadi berlangsung pada hamba-hambanya yang berakal, adalah sangat penting bagiNya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Dia pasti telah mengatur bahwa semua interaksi dan amal perbuatan dicatat dan dipelihara.
Allah Yang Maha Hidup da Menghidupkan, serta Yang Mematikan memerlukan sifat itu. Allah membangkitkan bumi yang luas ini ketika bumi ini mati dan kering, dan dengan jalan itu mewujudkan kekuaanNya dengan menghidupkan kembali jutaan spesies yang luar biasa yang di dalamnya Dia mengejawantahkan pengetahuanNya yang maha luas dalam keragamaan yang tak terhitung jumlahnya di dalam campuran bentuk-bentuk berbeda mereka yang kompleks.
Allah dapat menghancurkan dan membangun kembali  dunia dalam sebuah bentuk yang berbeda tempat umat manusia akan hidup secara kekal. Tuhan yang akan membawakan dunia berikutnya kepada makhluk sangat mampu melakukan hal itu. Dia berkuasa secara absolut atas segala sesuatu, dan makhluk terbesar dan terkecil sama kedudukanya menurut kekuasaanNya.
Karakter kekuasaan Allah dan cara kekuasaan itu bertindak. Karena kekuasaan Allah berasal dari sifat esensi ketuhananNya, segalanya mampu dilakukan. Karean hal ini berkaitan dengan dimensi lahiriah suatu eksistensi, maka tidak ada rintangan yang dapat menghalangi pelaksanaannya. Juga dalam kaitanya dengan sesuatu, kekuasaan Allah mencerminkan hukum Allah yang bersifat universal dan khusus adalah sama.

4. Argumentasi Al-Qur’an
Al-Qur’an berargumen tentang hari kebangkitan ini untuk menyentuh hati manusia mengenai kehebatan yang akan dilakukan Yang Kuasa pada hari akhir, dan untuk mempersiapkan jiwa manusia untuk dapat menerima dan memahaminya, Al-
Qur’an menyajikan kehebatan yang dia lakukan disini untuk mempersiapkan kita terhadap hal itu. Ini memberikan contoh-contoh tindakan-tindakan besar Allah di dalam alam semesta yang luas (makro-kosmos) dan, kadangkala, menunjukan pembuangan menyeluruhNya terhadap makro-kosmos, normo-kosmos, dan mikrokosmos (alam semesta, umat manusia, dan atom).
Contohnya, ayat Al-Qur’an berikut ini menekankan kekuasaan Allah dan, dengan menyebutkan berbagai fakta, mengajak kita untuk memiliki keyakinan tentang pertemuan kita dengan Dia di akhirat:
Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimanaa) yang kamu lihat, kemudia Dia besemayam di atas ‘Arsy’ dan menundukan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhlukNya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya), supaya kamu meyakini mertemuan (mu) dengan tuhanmu. (13:2)
Al-Qur’an membuat analogi antara hari kebangkitan dan kehendak Allah di muka bumi. Kadang-kadang Al-Qur’an menyinggung kehendak Allah yang akan terjadi di masa depan dan di akhirat sedemikian rupa sehingga kita yakin tentang kehendak itu dengan membuat analogi dengan apa yang kita di sini. Al-Qur’an menunjukan kejadian-kejadian yang sejenis dan membuat perbandingan antara kejadian-kejadian tersebut dengan hari kebangkitan.
Al-Qur’an juga menyamakan hari kebangkitan dengan peremajaan atau penyegaran musim semi di dunia yang mengikuti kematianya di musim dingin. Al-
Qur’an menguraikan bagaimana Allah mengatur atom dan molekul sambil menciptakan makhluk manusia dalam beberapa tahap. Alam mati di musim dingin tetapi hidup kembali selam musim semi, saat pohon dan cabang mengering menumbuhkan daun memekarkan bunga dan menghasilkan buah. Semua ini hampir sama (tetapi tidak sama betul) dengan kejadian-kejadian yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Biji-biji tumbuhan yang tak terhitung jumlahnya dan jatuh ke tanah selama musim gugur sebelumnya tumbuh dan berkembang menjadi bermacam-macam tumbuhan tanpa ada kebingungan sedikitpun. Pembangkitan orang-orang mati pada hari perhitungan akan terjadi seperti ini:
Dan sebagaimana tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila kami turunkan air diatasnya niscaya ia akan bergerak dan subur.sesungguhnya tuhan yang menghidupkan yang mati;sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (41:39)
Dalam surat 81, 82, dan 84, Yang Maha Kuasa menyebutkan dengan jelas tentang hari kebangkitan dan revolusi besar serta kehendak-kehendak tuhan yang akan terjadi pada waktu itu. Dia menggunakan gambaran-gambaran dengan analogi yang dapat kita hubungkan dengan apa yang kita lihat di sini—panorama yang terlihat di musim gugur atau musim semi—dan kemudian, dengan perasaan takjub di hati kita manerima sesuatu yang mungkin ditolak oleh akal. Karena penafsiran makna umum dari ketiga surat ini akan membutuhkan banyak waktu, penulis akan mengutip satu ayat saja: Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan Manusia) dibuka (81:10). Ini menunjukan bahwa pada hari kebangkitan, amal perbuatan setiap orang akan dibeberkan di atas sebuah catatan.
Al-Qur’an mengingatkan manusia atas tanggung jawabnya sebagai imbalan atas rahmat Allah. Banyak ayat Al-Qur’an menyebutkan karunia atau rahmat Allah kepada umat manusia, dan mengingatkan kita bahwa kita harus bertanggung jawab atas rasa syukur atau rasa tidak bersyukur kita. Dengan kata lain: “Hai manusia! Akankah Dia yang menganugerahkan rahmatNya kepada kalian membiarkan kalian berbuat sesuka hatimu, dan kemudian masuk liang kubur untuk tidur secara kekal di dalamnya tanpa membangunkan kembali?”

D. Makna Eksistensi Roh

Ilmu pengetahuan belum sepenuhnya siap menerima eksistensi roh. Namun demikian, tidak berarti mengesampingkan eksistensi bagian-bagian di dalam dunia, seperti tanaman, binatang, dan alam manusia, atau eksistensi dunia alam-alam lainya di jagad raya in. alam lahiriyah kita yang kasat mata menggugah kesadaran kita. Mulai dari partikel-partikel kecil sampai galaksi, merupakan tempat dimana Allah Yang Maha Kuasa memberikan kehidupan, membentuk, memperbaharui, mengubah, dan mematikan. Ilmu pengetahuan menaruh perhatian tersendiri pada fenomena dunia ini.
Roh merupakan suatu hukum, yakni hukum tentang makhluk hidup yang dilengkapi dengan eksistensi eksternal atau rasional. Hukum ini berpotensi mencapai universalitas. Bahkan hukum-hukum alam, yang dianggap lemah jika dibandingkan dengan roh, memiliki stabilitas dan kekekalan. Seseorang dapat mengetahui bahwa semua jenis eksistensi, meskipun merupakan subyek perubahan, memiliki sebuah dimensi permanen yang tetap tidak berubah sepanjang tahap kehidupan.
Jasad bersifat tidak kekal, sedangkan roh yang tinggal di dalamnya bersifat permanen. Perubahan pada jasad atau elemen-elemen lainya tidak mempengaruhi roh. Roh mengubah atau memperbaharui pakaiannya (jasadnya) setiap tahun. Ketika roh menanggalkan pakaiannya ini untuk terakhir kalinya (kematian), kekekalan roh tidak terpengaruh dan sifat dasarnya tidak rusak, karena jasad hidup karena roh, bukan roh hidup karena jasad. Bahkan dapat kita katakan, jasad tidak hanya sebagai pakaian roh, melainkan tempat tinggal roh. Roh memiliki pelindung yang sangat halus, yang dapat disebut selubung tipis. Ketika jasad mati roh meninggalkan tempat tinggalnya dan mengenakan pelindungnya yang halus.
Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa roh manusia, yang merupakan elemen kehidupan, kesadaran seseorang, bersifat abadi dan diciptakan sedemikian rupa oleh kehendak dan izin Allah.
Bagaiman kita dapat membentuk eksistensi roh? Benda atau sesuatu dalam dunia lahiriah terdiri dari atom-atom, yang membuat partikel-partikel kecil. Tetapi, roh adalah suatu kesatuan sederhana dan dengan demikian bukan merupakan subyek disentegrasai. Kita tidak dapat melihanya seperti halnya benda lahiriah. Meskipun kita menerima eksistensinya dan mengamati manifestasinya, kita tidak dapat mengetahui sifatnya. Namun demikian, pengabaian kita terhadap sifat sesuatu, bukan berarti bahwa sesuatu tersebut tidak memiliki eksistensi.
Roh bukanlah suatu kekuatan listrik. Roh merupakan sesuatu yang sadar dan kuat yang dapat belajar, berfikir, merasakan, dan memberikan alasan. Roh terusmenerus berkembang, biasanya selaras dengan perkembangan fisik jasad, juga secara mental dan spriritual melalui pembelajaran, refleksi, keimanan, dan ibadah. Roh juga menentukan karakter, sifat, identitas seseorang dan juga membuat seseorang menjadi unik. Meskipun pada dasarnya semua manusia tercipta dari beberapa elemen, karakter, sifat, dan wujudnya, sampai dengan sidik jari mereka bersifat unik. Roh seseoranglah yang menentukan perbedaan ini.
Roh mengatur kecakapan di dalam diri kita. Semua makhluk berprilaku sesuai dengan sifat pembawaan yang diberikan oleh Allah. Oleh karena itu kita saksikan suatu ketentuan yang tegas di dalam gerakan alam semesta ini. Yang kita sebut hukum alam sebenarnya adalah nama-nama yang kita berikan kepada bagaimana makhluk melatih sifat pembawaan yang diberikan Allah melalui perilaku atau lambang. Sifat pembawaan sesuatu tidak “berdusta”. Misalnya Allah memerintahkan bumi untuk berputar pada porosnya dan mengitari matahari, dan bumi harus bertindak seperti itu.
Roh memiliki hubungan erat dengan masa lalu dan masa depan. Binatang tidak memiliki konsep waktu, sebagai sifat pembawaan yang diberikan Allah yang menyebabkan mereka hidup hanya untuk waktu sekarang. Tetapi, manusia sangat dipengaruhi oleh penderitaan kejadian serta kesengsaraan masa lalu. Hal ini karena roh manusia merupakan suatu kesatuan indera yang sadar.
Roh menjalin hubungan dengan dunia lahiriah melalui jasad. Roh merupakan suatu kesatuan sederhana yang berasal dari kehendak Allah. Untuk mewujudkan dan memfungsikan di dunia ini roh memerlukan perantara lahiriah. Sebagaimana jasad tidak dapat berhubungan dengan dunia simbol atau wujud non-lahiriah, roh dapat menjalin hubungan dengan dunia ini hanya melalui perantara jantung, otak, dan organ serta anggota badan jasmaniah lainya.
Roh menetukan wajah masa depan seseorang. Roh ini merupakn manifestasi dirinya sendiri terutama pada wajah sesorang, menjadikanya sebagai sebuah jendela terbuka menuju dunia internal seseorang. Melalui semua perwujudanya, wajah seseorang menyingkap karakter orang tersebut. Para ahli psikologi menyatakan bahwa hampir semua gerakan seseorang, bahkan batuk seseorang, memperlihatkan karakter orang itu.  Membaca wajah seseorang untuk mengetahui karakter, kemampuan, dan kepribadianya dikenal dengan physiognomy (seni mebaca karakter melalui penampilan fisik).
Roh menerima pendidikan moral, spiritual, dan intelektual, dan menyebabkan perbedaan karakter. Seorang manusia dapat terus tumbuh secar intelektual atau spiritual selamanya, berhenti pada titik tertentu dan berubah arah, atau membiarkan kecakapan intelektual dan spiritualnya rusak. Dengan kata lain, pendidikan moral, spiritual, dan intelektual seseorang tidak tergantung pada perubahan jasmaniah.
Roh merasakan dan mempercayaiatau tidak mempercayai. Manusia memiliki ratusan kata untuk mengekspresikan perasaanya, dan tidak pernah mengalami perasaan persis yang sama dengan perasaan orang lain. Selain itu, seorang manusia bisa mereflesikan peristiwa-peristiwa di sekitarnya atau keindahan ciptaan, dan demikian berkembang secara intelektual. Seorang individu dapat membandingkan dan memberikan alasan, dan kemudian percaya kepada sang pencipta segala sesuatu. Kemudian melalui ibadah dan mengikuti perintah-perintahNya, seseorang berkembang secara moral dan spiritual dan menjadi seorang manusia sempurna.
Roh merupakan dasar kehidupan manusia. Allah bertindak di dunia ini di balik tabir berbagai sebab. Namun demikian, terdapat banyak dunia atau alam lain, seperti dunia pikiran, simbol, bentuk-bentuk non-lahiriah, dimensi di dalam sesuatu, dan roh. Di dunia ini, Allah bertindak langsung, dan benda serta penyebab tidak bersifat operatif. Roh ditiupkan kedalam embrio secara langsung, tanpa perantara penyebab. Ini merupakan suatu manifestasi langsung nama Allah yaitu Yang Maha Hidup, dan oleh karena itu merupakan dasar kehidupan.
Roh memiliki pelindung atau amplopnya sendiri. Jasad bukanlah pelindung roh. Tetapi, roh memiliki pelindung atau amplopnya sendiri. Ketika roh meninggalkan jasad pada saat kematian, roh diletakkan kepada pelindungnya, yang seperti sebuah
“negative/klise” jasad dan dikenal dengan jasad astral atau jasad yang sangat ringan. Wujud jasad semacam itu dapat ditangkap dan diperlihatkan melalui teknik-teknik fotografi khusus, sebagaiman dibahas sebelumnya. Bahkan anggota badan yang teramputasi data dilihat.

E. Iman Kepada Hari Kebangkitan Dan Kehidupan Sesudah Mati Secara

Universal

1. Percaya Kepada Kehidupan Sesudah Kematian Dalam Masyarakat Non-
Islam
Keuniversalan keyakinan agama, termasuk beberapa macam eksistensi setelah kematian, secara umum diakui oleh para ahli antropologi modern.sejumlah manusia terdahulu tampaknya membatasi eksistensi setelah kematian sebagai kebaikan (dengan hilangnya keburukan), sebagaimana orang Nikaragua, atau orang-orang yang memiliki derajat, seperti orang tonga (Negara di kepulauan Polynesia); sedangkan orang-orang Greenland, New Guenia, dan lain-lain sepertinya meyakini kemungkinan kematian kedua di dunia lain atau ketika menuju dunia lain tersebut.
Maya. Landa menulis bahwa bangsa Maya memiliki sebuah surga dengan keindahannya termasuk makanan dan minuman yang melimpah di dalam bayangan pohon suci. Mereka juga memiliki Mitnal, sebuah neraka untuk mereka yang keji dan jahat, di mana kelaparan, kedinginan, dan penderitaan menerpa mereka. “Dewa kematian” Hunhau memimpin dunia yang suram ini. Sedikit sekali yang diketahui mengenai penguasa surga. 
Inca. Apabila pelaku dosa tidak melakukan pengakuan dosa sepenuhnya, mereka akan disingkirkan dengan kemungkaran kekuasaan dalam kehidupan ini, dan setelah kematian akan mengalami kelaparan dan kedinginan di suatu tempat jauh di dasar bumi, di mana satu-satunya makanan mereka adalah cerita. Mereka yang menjalankan kehidupan yang mulia dan bertobat atas dosa-dosa mereka akan mengalami eksistensi yang berbahagia dengan makanan dan minuman yang melimpah di dalam surge dewa matahari.
Babylona dan Assyria. Pada agama bangsa Babylonia kuno, yang secara subtansial identik dengan bangsa Assyria, tampaknya hukuman hanya terbatas untuk kehidupan saat ini. Kebaikan dianugerahkan oleh rahmat Tuhan yang berupa kekuatan, kekayaan, umur panjang, banyak keturunan, dan sebagainya. Keburukan diganjar dengan malapetaka temporal. Mengenai kehidupan sesudah kematian, diyakini bahwa satu jenis hantu, bayangan semi-material (ekimu), menyelamatkan kematian fisik. Ketika jasad dikubur hantu turun kedalam roh untuk mendampinginya. Pada hari Ishtar, tempat alam roh dimana dia turun untuk mencintai mayat yang dicintainya.
Mesir. Orang-orang mesir yang beriman mencari kehidupan abadi yang utuh dengan dewa matahari Osiris (yang berjalan setiap hari melintasi roh), sebagai tujuan setelah kematian. Kepergian tersebut biasa disebut “kehidupan”, peti mayat disebut
“peti kehidupan”, dan kuburan disebut “ penguasa kehidupan”.

2. Agama Yahudi dan Kristen
Literature Yahudi yang meragukan pada abad pertama dan kedua SM berisi perkembangan-perkembangan eskatalogis baru yang terutama berkenaan dengan doktrin tentang ganjaran setimpal yang lebih jelas setelah kematian. Sheol masih yang paling dipahami secara umum sebagai tempat tinggal dari orang yang telah meninggal yang sedang menunggu kebangkitan, dan tempat tinggal yang memiliki divisi bebeda untuk memberi pahala kepada yang alim dan menghukum yang jahat. Untuk yang keji, Sheol kadang kala sama dengan Neraka. Gehenna biasanya digunakan untuk tempat hukuman terakhir bagi kejahatan setelah pengadilan yang terakhir, atau bahkan secara langsung setelah keamtian;  fisdaus sering digunakan untuk menunjukan tempat tinggal perantara bagi jiwa orang-orang yang adil, dan surgalah tempat tinggal kebahagiaan akhir mereka. Pemakaian istilah-istilah ini oleh kristus menunjukan bahwa orang-orang Yahudi pada masanya sangat megenal makna-makna Perjanjian Baru mereka.
Eskatologi dalam perjanjian baru. Perjanjian Baru atau eskatalogi Kristen secara umum dapat dirangkum dalam bentuk seperti berikut ini:
a.       Kematian: kematian, perpisahan arwah dan jasad, dipahami terutama sebagai konsekuensi dan hukuman terhadap dosa Adam (Roma5:12).
b.      Pendekatan tentang hari kiamat: Kristus, disamping mengungkapkan penolakan untuk merinci kapan dunia akan kiamat (Markus 13:32;kisah 1:6), agama Kristen awal yakin bahwa hari kiamat adalah dekat.
c.       Penyucian: keadaan tengah-tengah dengan durasi yang tidak diketahui di mana manusia yang meninggal tidak sempurna, tetapi tidak menyesali dosa-dosanya, mengalami penyucian agar memenuhi  sarat  masuk surga. 
d.      Neraka: dalam ajaran Katolik, Neraka merupakan tempat atau keadaan manusia (dan malaikat) yang, karena dosa, dikeluarkan selamanya dengan keadaan yang penuh rahmat.

3. Kebangkitan Jasad
Datangnya kekuatan dan kemuliaan Kristus yang terlihat akan menjadi sinyal bagi kebangkitan orang yang sudah meninggal. Ajaran Katolik menyebutkan bahwa semua orang akan bangkit dengan jasad yang mereka miliki dalam kehidupan ini. Tetapi secara pasti sesuatu yang diperlukan untuk membangun identitas jasad yang bangkit dan berubah bentuk itu dengan jasad saat ini tdak diketahui. Meskipun tidak didefinisikan secara formal, sudah cukup pasti bahwa hanya akan ada satu kebangkitan serentak bagi kebaikan dan kejahatan.

F. Eskatologi Dalam Islam Tentang Peritiwa-Peristiwa Dan Keadaan

Akhirat

Aspek utama eskatalogi Islam mirip dengan tradisi Yahudi-Kristen. Karena mereka berasal dari sumber yang sama dan betul-betul berasal dari Wahyu Tuhan, beberapa poin umum bisa ditemukan: misalnya serbuan terhadap dunia menjelang hari kiamat oleh Gog dan Magog (Ya’juj dan Ma’juj), kemunculan Dajjal (Anti-Kristus) dan kemudian orang Mesiah dan/atau Mahdi yang akan membawa keadilan dan keselarasan setelah kekacauan global, suatu kemurtadan global sesaat sebelum kehancuran dunia, hari kiamat, hari kebangkitan, pengadilan agung, jembatan (sirat), dan Surga serta Neraka sebagai tempat tinggal akhir untuk makhluk-makhluk berakal.

1. Kematian Dan Roh Sesudah Kematian 
Jasad adalah sebuah alat roh, yang memerintah atau mengendalikan semua anggota, sel, dan partikel-partikel kecilnya. Ketika waktu yang ditentukan telah tiba, berbagai penyakit atau kesalahan pada fungsi-funfsi tubuh berarti sebuah undangan
Izra’il, malaikat kematian. Kenyataanya, Tuhanlah yang menyebabkan manusia mati. Bagaimanapun, manusia seharusnya tidak mengeluhkan ini kepada Tuhan, seperti yang dapat dibenarkan oleh banyak orang, Tuhan menggunakan Izra’il sebagai tirai atau selubung dalam mencabut nyawa. Juga dia meletakan penyakit atau sejumlah malapetaka sebagai tirai antara Izro’il dan kematian sehingga manusia tidak akan menyalahkan karena kematian.
Pada waktu kematian, biasanya jendela-jendela terbuka untuk orang-orang beriman yang taat dari tempat-tempat mereka Firdaus, atau ditunjukan wujud-wujud duniawi-lain atas perbuatan dan perkataan-perkataan baiknya. Nabi Muhammad menyatakan bahwa nyawa ini dicabut dengan lemah lembut ibaratnya air yang mengalir dari sebuah kendi. Yang lebih baik dari itu, para syuhada’ tidak merasakan sakarotul maut dan tidak mengetahui bahwa mereka meninggal; tetapi, mereka menganggap diri mereka menuju dunia yang lebih baik dan menikmati kebahagiaan yang sempurna.
Untuk orang-orang mukmin yang taat, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Meskipun jasad membusuk dan sepertinya memadamkan cahaya kehidupan dan cahaya kesenangan, sebenarnya hanyalah merupakan suatu pembebasan dari tugas-tugas berat kehidupan duniawi, suatu perubahan tempat tinggal, suatu perpindahan raga, sebuah undangan dan permulaan kehidupan yang kekal. Dunia terus menerus dihidupkan melalui makhluk dan takdir, dan terus menerus menanggalkan kehidupan melalui siklus makhluk, takdir dan kebijaksanaan lainya.
Kematian membebaskan manusia dari dunia yang sempit, yang menjadi bertambah berat saat manusia bertambah tua dan sakit, dan menyebabkan manusia memasuki lingkaran kasih sayang Tuhan yang abadi, yang tidak terhingga luasnya. Disana kita menikmati kebersamaan yang abadi dengan orang-orang yang kita cintai dan kehidupan abadi yang bahagia. Oleh karena itu liang kubur kita adalah seperti Rahim ibu kita; kita meninggalkan kedua tempat tersebut untuk menuju sebuah kehidupan yang jauh lebih sempurna di dunia lain.

2. Roh Di Dalam Dunia Antara (Alam Barzakh)
Setelah kematian, roh orang-orang yang hidupnya dipenuhi dengan kebaikan, nila dan kesucian terbungkus dalam sutra atau benda seperti sutra dan dibawa oleh para malaikat yang bertugas membawa roh ke Hadirat Allah. Sambil membawa roh orang yang baik dan taat melalui Surga dan semua dimensi eksistensi di dalam, para malaikat di tempat-tempat yang dilalui menyambutnya dan bertanya: “Roh siapakah ini? Betapa indahnya roh ini!” para pembawanya memperkenalkanya dengan nama terindah ketika dia hidup di dunia, dan menjawab: “ini adalah roh yang, misalnya, shalat, puasa, dan menanggung penderitaan untuk kepentingan Allah.” Akhirnya, Allah yang maha kuasa menyambutnya dan berkata kepada malaikat: “kembalikan dia ke liang kubur tempat jasadnya dikuburkan, sehingga Munkar dan Nakir, malaikat penanya dapat menginvestigasi mereka.
Roh orang yang keji dipandang hina pada setiap tempat yang dilaluinya dan kemudian dilempar kembali ke liang kubur, jauh dari singgasana yang maha kuasa.
Setelah pemakaman, roh tetap menunggu di dalam dunia perantara (alam barzakh). Meskipun jasad terurai dan membusuk di dalam tanah, partikel-partikel
(atom-atom) pentingnya tidak. Alam barzakh adalah alam di mana roh merasakan
“hembusan” rahmat dari Surga atau hukuman dari Neraka. Apabila mereka menjalankan kehidupan yang mulia, perbuatan-perbuatan baik mereka akan tampak di depan mereka sebagai teman-teman yang menyenangkan. Juga, jendela-jendela akan terbuka sehingga terlihat pemandangan surgawi. Orang-orang dengan dosa yang tak terampuni akan menjalani sejumlah penderitaan di alam barzakh sampai dosa-dosa mereka terhapus dan mereka layak masuk surga.

3. Mengirim Hadiah Kepada Roh Setelah Kematian
Roh di alam barzakh akan melihat dan mendengar kita, apabila Allah mengizinkan. Dia dapat mengizinkan orang-orang suci melihat, mendengar, dan berkomunikasi dengan orang-orang tertentu yang masih hidup, atau mengizinkan sebagian dari mereka untuk menolong kita.
Setelah manusia meninggal dunia, catatan perbuatan-perbuatan manusia tetap terbuka apabila di dunia yang kita tinggalkan kita mewariskan kebaikan, anak-anak yang sholeh, buku-buku atau institusi yang terus bermanfaat bagi orang lain. Apabila mereka telah membesarkan atau membantu untuk membesarkan orang-orang yang memberi manfaat kepada umat manusia, pahala kita bertambah; apabila yang kita wariskan di dunia adalah keburukan, dosa-dosa kita bertambah terus sepanjang keburukan itu tetap membahyakan manusia. Sehingga, apabila kita ingin membantu orang-orang yang kita cintai yang ada di dalam barzakh, kita harus menjadi ahli waris yang baik. Dengan membantu orang-orang miskin, megkaji hukum-hukum Islam, menjalankan kehidupan yang baik dan mulia, dan khusunya dengan pengorbanan untuk memajukan Islam, kesejahteraan Muslim secara umum, dan membantu umat manusia, pahala mereka kan bertambah.


BAB III

PENUTUP


      A.      Kesimpulan 

Dari pembahasan di atas,  dapat di simpulkan bahwa:
Hidup manusia adalah indeks atau penunjuk bagi keajaiban yang berasal dari Asma-asma Ilahi. Hidup manusia adalah alat untuk memikirkan sifat-sifat dan kesempurnaan Ilahi. Ketika ajal menjemput raga, sepertinya kehidupan akan berakhir. Tetapi, realitanya, makhluk hidup tersebut diangkat ke tingkat yang lebih tinggi. Karena manusia merupakan ciptaan tertinggi, kematian mereka harus lebih sempurna dan pasti memiliki tujuan yang lebih besar. Setelah manusia mati dan dikubur, mereka pasti akan dibawa ke dalam kehidupan kekal.
Iman kepada akhirat merupakan dasar kehidupan umat manusia dalam masyarakat ataupun individu, fondasi untuk semua kebahagiaan dan kasih sayang, karena setelah iman kepada Allah, iman kepada hari akhir berperan dalam melindungi sebuah tata sosial yang damai. Apabila kita tidak percaya bahwa kita akan dipanggil untuk memperhitungkan amal perbuatan kita, mengapa kita diharuskan menjalani hidup dengan jujur dan benar. Tetapi, apabila kita berbuat menurut keyakinan bahwa kita harus menjalankan perhitungan amal perbuatan, kita akan hidup dengan taat dan benar.
Hampir semua agama setuju bahwa suatu hari akan datang dimana dunia akan binasa dan dibangun kembali, dan mayat-mayat dibangkitkan menuju kehidupan lain yang abadi. Lebih dari 100.000 Nabi telah datang, dan semua menyampaikan pilar keimanan yang sama, termasuk keimanan terhadap hari kiamat dan kehidupan sesudah kematian. Bahkan di dunia ini, dimana materialisme ilmiah tersebar luas dan mendominasi lingkaran ilmu pengetahuan, jumlah orang yang memeluk agama dan beriman terhadap kehidupan sesudah kematian adalah lebih besar dari yang mengingkarinya. Penolakan atau skeptisme terhadap kehidupan sesudah mati tidak obyektif, karena tidak ada orang skeptis (atau ateis atau anogtis) yang dapat menggunakan ilmu pengetahuan untuk membuktikan secara obyektif bahwa skeptisme bersifat ilmiah atau bahwa tidak ada kehidupan sesudah kematian.
Setelah kematian, roh orang-orang yang hidupnya dipenuhi dengan kebaikan, nila dan kesucian terbungkus dalam sutra atau benda seperti sutra dan dibawa oleh para malaikat yang bertugas membawa roh ke Hadirat Allah. Roh orang yang keji dipandang hina pada setiap tempatyang dilaluinya dan kemudian dilempar kembali ke liang kubur, jauh dari singgasana yang maha kuasa.
Setelah manusia meninggal dunia, catatan perbuatan-perbuatan manusia tetap terbuka apabila di dunia yang kita tinggalkan kita mewariskan kebaikan, anak-anak yang sholeh, buku-buku atau institusi yang terus bermanfaat bagi orang lain.

      B.      Saran 

Dari pembahasan di atas, penyusun dapat memberikan saran bagi pembaca makalah ini agar menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya, dan tidak menyianyiakan hidupnya dengan memuaskan nafsu-nafsu jasmaniah yang fana dan mengejar kesenangan-kesenangan yang sekejap saja. Hidup harus diabdikan demi pencarian untuk menyadari tujuan yang dipikulkan kepada hidup itu sendiri oleh Sang Pemberi Hidup.
Demikian dalam penyusunan makalah ini, penyusun menyadari masih banyak kesalah-kesalahan yang ada dalam makalah ini, oleh karena itu, kritik dan saran pembaca sangat penyusun harapkan untuk penyempurnaan makalah ini lebih lanjut.


DAFTAR PUSTAKA


Unal,Ali.2002. Makna Hidup Sesudah Mati kebangkitan dan penghisaban. Penerjemah Sugeng H dan Fathur R.−Ed. 1. Cet. 1., Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Share:

THE POWER OF MOSLEM IN QUR’AN

THE POWER OF MOSLEM IN QUR’AN 
Sebuah  Telaah Bagi Para Aktivis Dakwah Dalam Perjalanan Menuju Iman Wal Islam


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Kekuatan Dalam Jalan Da’wah Bagi aktivis dan mujahidin dimasa dahulu dan masa sekarang inin amatlah penting untuk menujang jalannya da’wah seseorang. Mengenai da’awah itu sendidri kita tahu bahah sekarang para umat muslim menglami jaman kemunduran yang menyebabkan keimanan umat islam di dunia mengalami mengalami penggerusan. Islam yang dulu berjaya kini semakin dalam keadaan keterpurukan yang hebat. Para pemuda muslim di jaman Rasullah begitu semangatnya menyerukan kalimat-kalimat Allah, bahkan mereka rela mati demi tegaknya islam di dunia ini. Namun sekarang para pemuda islam lebih menyukai berdiam diri tanpa mengumandangkan kalimat-kaliamt Allah dengan berdakwa. Padahal Allah sudah menyuruh kita untuk berdakwah menyebarkan agama islam kepenjuru duni tanpa terkecuali. Namun disisi lain ketika umat muslim hendak mendakwakan islam para orang kafir menghalangi itu semua. Seperti yang kita lihat bahwa umat muslim dibantai secara sadis di berbagai belahan dunia
Inilah saatnya kita bangkit melawan para orang-orang kafir yang memusuhi islam. Mengajarkan islam yang benar dengan berdakwah, kita sebagai umat nabi muhammad haruslah lebih menggelorah mendakwakan islam. Ingatlah bahwa umat nabi muhammad saw adlah sebai-baiknya umat. Bagaimana cara kita berdakwa yang benar ? Dan apa yang nmenyebabkan dakwah islam menurun ? itu bahas disi, mengetahui senjata-senjata seorang muslim yang tidak bisa dikalahkan oleh orang-rang kafir yang bearasl dari Al-QUR’AN. Bahkan senjata itu pun sebagai modal utama untuk berdakwah di masyarakat. Adakalanya seorang aktivis dakwah diasingkan, dikucilkan, dan dibaikot oleh masyarakat. Pendakwah sering beranggapan bahwa inilah kalu kita iltizam kepada dakwah dan ini adalah bagian dari cobaan dalam berdakwah anggap semacam iyu tidaklah benar. Tetapi adakalanya memang benar mungkin saja saat masyarakat menolak dakwah kita, bisa jadi ia salah dalam menyampaikan atau tidak ada pendekatan dulu kepada mereka, bahkan mungkin kita lebih cendrung menjauhi mereka. Dalam dakwah kita amat butuh mereka , sehingga masyarakat membutuhkan kita. Dalam hal ini akan disampaikan beberapa yang bisa menjadi senjata dan kekuatan yang tak terkalahkan. Dalam hal akan diungkap berbagai hal penting seperti kekuatan tauhid, iman, tawadzu’, sabar, ilmu, dan lain-lain. Dilatar belakangi masih banyak aktivis dakwah yang masih lemah dan mujahid yang selalu dianggap membuat masalah.   

A.      Rumusan masalah
1. Apakah makna tauhid ?
2. Apakah yang dimaksud dengan kekuatan iman dan islam ?
3. Apakah yang dimaksud dengan kekuatan ilmu ?
4. Apa saja kekuatan yang ada pada kekuatan Al Qur’an ?
5. Bagimana kita cinta kepada Rasullah SAW ?


B.       Tujuan
1. mengetahi makna tauhid.
2.  mengetahi maksud dengan kekuatan iman dan islam.
3. mengetahi maksud dengan kekuatan ilmu.
4. mengetahi kekuatan yang ada pada kekuatan Al Qur’an.
5. mengetahi cara cinta kepada Rasullah SAW.



BAB II
PEMBAHASAN


A.      TAUHID
Inilah  kekuatan pertama yang harus dimiliki setiap muslim, karen aini berpengaruh islamnya seseorang, dan juga kita diciptakan untuk mentauhidkan Allah SWT. Sebagaiman firman-Nya didalam Q.S. 51;  Adz  Dzariyat : 56, berikut :
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mengabdi  kepada-Ku” (Q.S. 51;  Adz  Dzariyat : 56)
Allah Maknanaya bahwa mereka disuruh agar beribadah kepada Allah swt. Allah yang berhak untuk diibadai dalam segala hal. Allah tidak memerlukan sujud kita akan  tetapi kita yang amat butuh bersujud kepa-Nya, inilah petunjuk pentingnnya kita mempelajari tauhid. Alah telah melarangkita untuk beribadah kepada thaghnut, sebagai implementalasi rasa syukur kita kepada Allah, mahabah, khauf, dan raja’ kepada Allah. Tuhid itu ada tiga macam:
1.    Rububiyah
Tauhid inin menegaskan bahwa meng-Esakan Allah dalam segala perbuatan-Nya dengan meyakini bahwa dia sendiri yang ada di bumi dan langit, dan tauhid ini juga dimiliki kafir Quraiys juga mereka meyakini bahwa Allah SWT yang telah menciptakan segala sesuatu. Firman Allah :

 “inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepada apa yang telah diciptakan oleh sesembahan(mu) selain Allah. Sebenarnya orang-orang yang dzalim itu di dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. 31; Luqman : 11)
Allah swt telah menyatakan pulah tentang ke-Esaan-Nya dalam rububiyah-Nya atas segala semesta.  Ini adalah bentuk tauhid rububiyah, mengimani bahwa tiada yang mampu menciptakan segala sesuatu melainkan hanya Allah swt. Apa yang memebuatmu ragu akan penciptaan Allah swt, maka Allah swt telah menutup malam dan membuka siang, mengatur matahari dan bintang-bintang dengan sempurna, dan tidak ada sedikit cacat celanya pada segala apa yang diciptakan Allah Swt. Bahkan jika engkau mencari walu sekecil noktah yang tertitik pada sebiji sawi atau sekecil proton sekalipun. Karen semua ciptaan-Nya sangat sempurna. Jadi mengakui atas tauhid rububiyah Allah Azza wa jalla dan menerimanya adalah sesuatu yang fitri.
2.    Uluhiyah
Tauhid inilah yang tidka dimiliki kafir Quraisy sehinggah ia mendapat laknat dari Allah dikarenakan pengingkaran tauhid uluhiyah ini.  Tauhid uluhiyah adalah meng-Esakan Allah Azza wa jalla dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat dan taqarub yang disyariatkan; seprti do’a, nadzar, kurban, raja’, kauf, dan sebagainya. Allah mengutus Rasullah untuk menyerukan, “Sembahlah Allah”. Rasullah bukan diutus untuk bersenang-senang, tetapi diutus untuk berdakwah.


"Allah menciptakan segala sesuatu dan dia memelihara sesuatu.”  (Q.S. 39; Az-Zumar : 62)
Dan bahwasanya Dia (Allah) adalah penguasa seluruh alam, yang mengatur dan mematikan kehidupan. Maka tauhid merupakan kekuatan tak terkalahkan oleh apapun.

Rasullah saw bersabda:  

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul kepada tiap-tiap umat (untuk mnyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghnut itu.” (Q.S. 16; An-Nahl : 36).
Makna tauhid “Sembahlah Allah” adalah :
1.      Tauhidkan Allah
2.      Esakan Allah
3.      Berdoalah kepada Allah
Sedangakan Allah melanjutkan firmanya-Nya  “jauhilah thughnut”. Thughnut adalah :
1.      Sembahan selain Allah
2.      Syariat bukan dari Allah
3.      Setan
4.      dukun
Maka tidaklah heran bahwa setiap Rasul melalui dakwahnya dengan perintah tauhid uluhiyah. Karena tidak ada ilahi yang berhak disembah melainkan Allah semata. Kebutuhan seorang hamba untuk menyembah Allah tanpa menyekutukannya-Nya dengan suatu apapun, tiadk memiliki bandingan yang dapat dikiaskan tetapi mirip dengan kebutuhan jasad kepada makanan dan miniman. Akan tetapi keduannya memilki perbedaan mendasar mengingan hakekat  seorang hamba adalah qalbu dan ruh. Ia tidak bisa menjadi baik kecuali dengan Allah semata .karena dengan mengingat Allah hati seorang hamba bisa tenang dan bertambah hatinya. Sedangkan jika mendapat nikmat dunia , maka nikmat yang didapat itu tidak akan  bertahan lama dan hanya sementara.
4.    Tauhid Asma’u wa Sifat 
Allah berfirman :
“hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tingglkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenarandalam (menyebut) nama-nam-Nya, nanti mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang mereka lakukan.” (Q.S. 7; Al-A’raf ; 180)
Ayat di atas menunjukkan akan hal-hal sebgai berikut :
1.    Allah telah menetapkan asma’ dan larangan menafikan yang telah ditetapkan
2.    Asma Allah semuannya husna yang dimaksudkan ialah baik dan sempurna tidak ada cacat celanay
3.    Dianjurkan untuk bertawasul dengan asm’ul husna
4.    Allah mengancam dengan adzab yang pedih bagi yang menyelewengkan asma’ul husna
Masih adakah orang yang menafikan asma’ Allah, padahal sudah jelas dalil-dalil yang menyebutkan tentang masalah keutamaan asma’ul husna dan apabila ada orang yang menafikan asma’ul Allah berarti ia berada di atas jalan orang-orang musyrik dan ia keluar dari jalan Allah.
Inilah tiga tauhid menurut Al-qur’an dan As-sunnah yang sering kita kufuri yang merupakan sifat Allah. Maka hendaklah kita mendalami tauhid karena merupakan senjata tak terkalahkan dan memiliki keutamaan.
Tauhid memiliki banyak keutamaan diantaranya :
1.      diantaranya ialah menghapus dosa-dosa seorang hamba.
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedzaliman, mereka itulah yang mendpat keamanan dan merek aitu adalah orang-orang yang mendaptkan petunjuk.” (Q.S. 6 ; Al-An’am : 82)

Jadi, diayat inin djelaskan keutamaan tauhid yaitu mendapatkan keamanan dan petunjuk dari Allah.
2.      Dimasukkan ke Jannah. Diriwayatkan dalam hadist :
“Barang siapa yang bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya dan muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. (Bersakasi bahwa) ‘Isa adalah hamba, utusan dan kalamat-Nya. (Bersaksi bahwa) Jannah adalah benar adanya, nerakapun benar adanaya, maka Allah pasti memasukkannya ke dalam Jannah-Nya betapapun amal yang dilakukan.” (H.R. Al-Bukhari)
3.      Diharam neraka baginya.
4.      Dapat melihat wajah Allah.
Diriwayatkan dalam hadist :

“Allah ta’alla berfirman : “wahai anak adam seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh jagad, lantas engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, maka qw akan memberimu amapunan sepenuh jagad itu pula.” (H.R. At-Tirmidzi : 3540)

Tauhid merupakan kekuatan seorang muslim yang harus dimiliki. Karena dengn kekuatan inilah Allah Azza wa jallah akan memeberikan kekuatan, perlindungn , pertolongan yan gtidak pernah kita sangka dan duga. 



B.       Kekuatan Iman dan Islam
Iman dan islam adalah kekuatan dan pelindung dari hal-hal yang bisa mencampuri iaman dan islam kita. Iaman adalah percaya kepada Allah, para malaikt kitab-kitab Allah, para rasul, hari akhir, dan qada’ dan qadar. Menurut  para musafir yang dimaksud dengan iman adalah shalat menghadap kiblat (Baitul Maqdis). Sebab para sahabat sebelum mendapata perintah untuk menghadap ke ka’bah, mereka melaksanakan shalat menghadap ke Baitul Maqdis.
Iman adalah sumber dari kekuatan seorang muslim dan sekarang akan kita kaji ulang persoalan rukun iman.
1.      Beriman kepad Allah : yaitu beriman kepada wahdiyahnya dalam hal sifat, ibadah, do’a, dan hukum.
2.      Beriman kepada para malaikat-Nya : mereka adalah makhluk yang diciptakan dari cahaya yang ditugaskan untuk melaksanakan semua perintah Allah dan mencatat amal perbuatan manusia.  


“Dan kepunyaan-Nya-lah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (Q.S. 21; Al-Anbiya’: 19-20)

3.      Beriman kepada kitab-kitab-Nya : kitab-kitab yang diturunkan Allah yaitu taurat, injil, zabur, dan Al qu’an dan Al Qur’an adalah penyempurna kitab-kitab yang terdahulu.

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing). Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan. Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. 39; Az-Zumar: 68-70)
4.      Beriman kepada rasul-Nya : Rasul yang pertama  Nabi Nuh as dan yang terakhir adalah Rasullah as yang merupakan penutup para nabi.
5.      Beriman kepada hari akhir : hari perhitungn auntuk membalas semua amal berbuatan
6.      Beriman kepada qada’ dan qadar : pokok dari iman kepada takdir adalah senantiasa ridha dengn takdir yang baik dan buruk.

Menurut bahasa Tashdiq (memepercayai). Sedangkan menurut istilah ialah memepercayai Rasullah saw dan berita yang dibawahnya dari Allah swt. Sedangkan makna dari kalimat, iman adalah perkataan dan perbuatan dapat bertambah dan berkurang. yang akan dibahas satu persatu mngenai makna tersebut:
1.      Perkataan dan perbuatan : ucapan dua kalimat syahadat. Sedang yang dimaksud dengn perbuatan ialah perbuatan hati (keyakinan) dan perbuatan anggota badan (ibadah).
2.      Bertmabah dan berkurang : bertmbah artinya ketaatan kepada Allah dan berkurang melkukan maksiat.
a.       Marji’ah : iman adlah mempercayai dengan hati dan mengucapkannya.
b.      Karramiyah : iman cukup ducapakan dengan lisan.
c.       Mu’tazilah : iman itu perbuatan, ucapan, dan keyakinan.
Menurut para ulama salaf, iman ialah :
1.       Imam Syafi’i : iman adalah perkataan dan perbuatan dapat bertambah dan berkurang.
2.      Abu Na’aim : iman bertmabah dengan ketaatan dan berkurang dengn kemksiatan.
3.      Ibnu Mas’ud : keyakian keseluruhan adalah iman.  
Bentuk-bentuk iman itu ada dua bagian, di antaranya :
1.      Iman kepada yang haq: iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab Allah, Rasul-rasul, kepada hri kiamat, dan takdir, serta iman kepada yang ghaib, jannah, paha, dosa, dan neraka.
2.      Iman kepada yang bathil: segolongan manusia yang memprcayai suatu benda yang bisa membuat bala’ atu bahgia seseorang. Dan dia menyembah dan mencintainya seperti Allah.
Iman seseorang pasti akan diuji sesuai dengan kadar imanya. Ada di antara mereka yang lulus dengan ujian yang Allah berikan adapulah yang tidak, dan dia harus memulainya dari bawah. Berat dan tidaknya ujian tergantung dengan kadar imannya , maka bersabarlah adalah kunci mempertahankan iman.


C.    KEKUATAN ILMU DIEN
Ilmu merupakan kekuatan seoarnng muslim, karen ailmu merupakan kunci sukses dalam beribadah kepada Allah swt. Allah telah menyebutkan ilmu didalam al-qur’an. Kadang Allah memuji ilmu yang bermanfaat dan Allah pun terkadang mencelah ilmu yang tidak bermanfaat. Dikarenakan ilmu yang bermanfaat akan menjadikan pemiliknya lebih dekat dengan Rabbnya, sedangkan ilmu yang tidak bermanfaat cendrung kepada kemaksiatandan menjauhkan dari Rabbnya. Dan ilmu itu salah satu amalan yang dapat membedakan mana yang pandai dan mana yang bodoh.
Tentu saja tidaklah sama orang pandai dengan orang bodoh, karena emepunyai perbedaan yang mencolok. Saat halnya ibadah orang berilmu akan beribadah sesuai dengan tuntunan yang telah ada dan disyariatkan bentuk ibadah-ibadahnya dan akan lebih berhati-hati dalam melaksanakannya. Akan tetapi orang bodoh bila beramal akan melekukanya sesuai hawa nafsunya. Bila terlihat kurang ia tambahi dengan kemauannya sendiri dan menjadikan ibadahnya terasa berat dilakukan.
Islam tidak begitu, karena islam menghargai semua bentuk masalah ilmu sampai-sampai Allah menjanjikan kehormatan bagi yang berilmu.


“Hai orang–orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis “, maka lapangkanlah nicaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. 58; Al-Mujadallh: 11)
Bahwa sudah jelas Allah akan mengangkat derajat serta kehormatan bagi manusia yang berilmu. Ketinggan derajat menunjukkan keutamaan, maksudnya banyak pahala, yang mana dengan banyak pahala  derajat seseorang akan diangkat. Pengertian derajat mempunyai dua konotasi, yaitu:
1.      Ma’nawiyah: di dunia memperoleh kedudukan dan reputasi yang bagus.
2.      Hissiyah:  di akhirat memilki kedudukan yang tinggi di jannah.
Pada suatu hari Rasullah pernah ditanya tentang dua orarng, yaitu ahli ibadah dan ahli ilmu. Maka Rasullah menjawab kelebihan orang yang berilmu atas ahli ibadah, sama dengan kelebihan atas orang yang paling hina diantara kalian. Dan orang yang mencari dan belajar (ilmu dien al-islam)  ilmu akan dido’akan oleh para malaikat.
Sesunggunya Allah dan para malaikat-Nya penghuni langit dan bumi, termasuk semut pula yang dilam liangnya, termasuk pula ikan paus, benar-benar bershalawat kepada orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (H.R. At-Tarmidzi).
Betapa antusias para malaikat mendo’akan para pencari ilmu, karena hukum mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Maka mohonlah dengan tambahan ilmu sebagimana firman Allah:

“Katakanlah : “Ya tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (Q.S. 20; Thaha; 114).
Lalu ilmu apa yang harus dipelajari untuk mendapatkan kemulyaan.  Para fuqaha yang dimaksud adalah ilmu fiqih. Karena dengan mempelajari ilmu fiqih dapat mengetahui mana yang halal dan haram sesuai dengan syariat islam. Sedangkan menurut para muhadist yang harus difahami adalah kitab dan sunnah. Sebenarnya mencari ilmu adalah haq, yaitu wajib mencari dan meningglkanya berdosa. Karen orang meninggalkan mencari ilmu dia nantinya akan dipimpin oleh kejahilan dan mereka termasuk merugi di dunia maupun akhirat. Di dunia dianggap orang gagal dan di akhirat akan di adzab di jahannam.  Amatlah berbeda dengan orang yang berilmu akan di mudahkan menuju jannah dan mendapat derajat yang tinggi. Allah swt memberikan empat keutamaan bagi mereka yang mencari ilmu dien:
1.      Dikeliling malaikat
2.      Diberikannya ketengan hati
3.      Allah menyebut nama-Nya didepan makhluk-Nya
4.      Diridhai Allah swt
Pentingnya mempunyai kekuatan ilmu di merupakan salah satu syarat diterimannya amal ibadah seseorang. Karena ulama’ kita telah membuat suatu dasar atau aqidah yang menjadi azas didalam islam atas diterimannya amal di sisi Allah apabila telah ememnuhi dua persyaratan besar, yaitu: pertama: amal ibadah itu dikerjakan semata-mata karena Allah (lillah) ikhlas; Kedua: mengikuti dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah Nab. Dan apabial suatu amal dikerjakan tanpa ilmu, tanpa dalil, dan tidak ikhlas maka amalan tersebut mardud (tertolak/dikembalikan). Dan yang dimaksud dengan ilmu itu adalah:
1.      Al-Qur’an: firman-firman Allah SWT
2.      Al-Hadist: ucapan dan amalan yang dilakukan Rasullah SAW
3.      Qaul Sahabat: ucapan dari para sahabat
4.      Qias: lologika yang disyariatkan
Maka inilah yang dimaksud dengan ilmu. Ilmu merupakan kekuatan yang terkalahkan, bahakan adalah kunci berbagai hal, maka pelajarilah dengan tawadu’. Tujuan menuntut ilmu bukan sekedar unutk mendapatkan ilmu pengetahuan dan kenikmatan ilmu dan pikiran saja. Walaupun akhirnya pengetahuan itu didapatkan dan wawasan bertamabah. Banyaak orang pintar tetapi sedikit amalnya dan kerusakan yang ditimbulkan mereka lebih banyak dari pada kerusakan yang ditimbulkan oleh orang-orang awang. Kenapa hal ini harus disampaikankepada semua kaum muslimin tentang kekuatan ilmu. Bagi seorang muslim haruslah mempunyai ilmu dien untuk kelangsungan ibadahnya. Sedikitnya ilmu lebih baik dari pada banyak ibadah tanpa ilmu dien.
Bahkan ilmu itu merupakan kekuatan dan bentuk jihad pengetahuan yang luar biasa. Bentuk-bentuk jihad pengetahuan pengetahuan, yang terdapat pada ayat berikut:


“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (Q.S. 9; At-Taubah: 122).
Dalam islam tidak dikenal istilah pengetahuan agama dan pengetahuan non agama atau umum sebagaimana yang telah difahami oleh kebanyakan kaum muslimin. Karena semua ilmu pengetahuan adalah milik Allah. Maka pengetahuan ad-dien pada ayat di atas dapat difahami sebagai semua pengetahuan yang diperintahkan oleh Allah swt untuk mengetahuinya agar dijadikan sarana dalam menegakkan ajaran islam di muka bumi ini.  Yang tidak lain pengetahuan itu berupa pengetahuan tentang Al-Qur’an, As-Sunnah, teknologi, kemiliteran, sosial, politik, dan lain-lain. Yang mempermudah mentauhidkan dan pengabdian kepada Allah swt.
D.    KEKUATAN AL-QUR’AN
Al-Qur’an bagi seorang mukmin merupakan kekuatanyang tak dapat dikalahkan. Yang dapat menunjukkan (al-huda), serta membuktikan (al-bayan), dan membedakan (al-furqan). Segala aktivitas kehidupan dengan sempurna karena memiliki kebenaran mutlak yang dijamin untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Al-Qyr’an adalh sumber ketenangan hati dan jiwa manusia maka sekirannya hatimu sehat maka kau tak kan bosan dengan Al-Qur’an.
Al-Qur’an kan memeberikan bacaan sebagai tambahan asset atas keimanan yang sudah ada tunduk dan mengimani Al-Qur’an berpedoman kepadannya, menjadikan Al-Qur’an sebgai referansi dalam hukum, dan tidak merasa keberatan dengan segala keputusan yang telah digariskan. Al-Qur’an sebagai perisai kepribadian dengan sifat dan kemanfaatannta sebagai:
 

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. 10; Yunus: 57).
Makna Al-Qur’an secara bahasa adalah bentuk mashdar dari kata kara yang bermkana tala (membaca) dan bermakna jam’a (mengumpulkan seprti kita menyatakan kara’a-kar’a-wa qur’an. Jadi berdasarkan makna pertama tadi,  yaitu tala adalh bentuk mashdar yang bermakna isim ma’ful. Sehingga maknanya matlu (yang dibaca). Sedangkan makna kedua, yaitu jam’a adalh bentuk mashdar yang bentuknya isim fa’il. Sehingga maknanya jami’un (mengumpulkan) karena Al-Qur’an adalh mengumpulkan berbagai macam kabar dan peringtan serta hukum-hukum dan juga ada kisah-kisah yang jelasnya Al-Qur’an mempunyai sifast sempurna dalam kabar, perintah, dan peringatan.
Makna Al-Qur’an secara istlah adalh kalamullah yang diturunkan kepada Rasul-Nya, penutup[ para Nabi yaitu muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, yan gdi mulai dari Al-Fatehah sampai An-Nas.  
Sesungguhnya Allah swt telah menjaga Al-Qur’an yang agung ini dari segala pemalsuan, pembajakan, perubahan, penambahan, pengurangan ataupun penggantian. Sehingga Allah menjamin keaslian Al-Qur’an itu.
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S. 15; Al-Hijr: 9).
Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia. Tidak seorang pun yang dapat gangguan kepada-Nya dan tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakang. Dan Al-Qur’an diturunkan kepada nabi muhammad saw. Al-Qur’an diturunkan pertama kali kepada Rasullah saw pada malam laialtul Qadr di bulan suci, yakni bulan Ramadhan.  


Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. (Q.S. 97; Al-Qadr: 1).
Itulah malam qadr, pada bulan Ramadhan yang penuh berkah. Sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan sekali dari Lauh Mahfud ke Baitul Izzah, kemudian diturunkan sedikit demi sedikit kepada Rasullah saw, sesuai kebutuhan dalam jangka waktu 23 tahun. Turunya Al-Qur’an dibagi menjadi dua macam:
Pertama Ibtida’i: yaitu ayat  Al-Qur’an yang turUn tanpa di dahului oleh suatu sebab yang melatarbelakanginya. Dan kebanyakan Al-Qur’an turun secara ibtida’i.  


Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.(Q.S. 9; At-Taubah: 75)
Kedua sababi: yakni Al-Qur’an yang turun di dahului suatu sebab yang melatarbelakanginya.
1.      Perntanyaan yang dijawab oleh Allah saw.  Contoh:

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (Q.S. 2; Al-Baqarah: 189).
2.      Kejadian sebuah peristiwa yang membutuhkan penjelasan dan peringatan. Contoh:


“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?"” (Q.S. 9; At-Taubah: 65)
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa seorang laki-laki pada peperangan Tabuk berkata didalam majelis: “Kami tidak pernah melihat dan mendapat kitab Al-Qur’an mereka. Tidak pernah melihat orang yang lebih ememntingkan perutnya, lebih pembohong dari mereka, Dan lebih pengecut ketika berhadapan dengan musuh.” Berkatalah yang lainnya: “Enkau dusta, dan engkaulah benar-banr seorang munafik. Akan kukatan hal ini kepada Rasullahsaw.” Berita ini sampai kepada Rasullah dan turunlah ayat Q.S At-Taubah: 65 ini. Sebagi larangan mengolok-olok Allah swt dan Rasul-Nya.
3.      Adanya sutau permasalahan yang membutuhkan penjelasan. Contoh:
 
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S. 58; Al-mujadillah: 1).

Tahapan turunya Al-Qur’an: pembagian ayat dalam Al-Qur’an yang demikia itu memiliki hikma yang banyak. Jadi kekuatan tak terkalahkan dan masalh hikma diturunkannya Al-Qur’an secara bertahap, diantaranya:
1.      Untuk menguatkan hati Nabi Muhammad saw. Firman-Nya:


“Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (Q.S. 25; Al-Furqan:32-33).
2.      Untuk memudahkan manusia dalam menghafal, memahami, dan mengamalkannya. Firman-Nya:

“Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (Q.S. 17; Al-Issra’:106)
3.      Menambah keinginana untuk menerima dan melaksankan perintah yang datang dari Al-Qur’an sehingga manusia merindukan dengan penuh harap akan turunnya ayat. Terutama berkenaan dengan hal-hal yang sangat membutuhkan jawaban atau penjelasan.
4.      pensyari’atan hukum secara bertahap hingga sampai pada kesimpulan hukum yang sempurna seperti dalam ayat-ayat khamr, yang mana manusia hidup dalam kultur dan budaya minum kamr. Maka, sangtlah sulit dan berat bagi mereka untuk menerim larangan dengan meningglkan tradidi mereka secaraq mutlak. Sehingga pensyari’atan dalam larangan minum khamr dilakukan secara bertahap hingga sampai kepada pengharaman khamr secara mutlak.
Seorang muslim haruslah beriman kepada firman-firman Allah Yang Maha mulia. Kemuliaaannya, keutamaannya, atas semua ucapan, Al-Qur’an adalh firman Allahyang sempurna tiada kebathilan didalamnya. Barang siapa yamng membaca dan memahami kandungan dari Al-Qur’an, maka akan beruntung dan siapa yang berpaling akan merugi besar.

 E.     MENCINTAI NABI MUHAMMAD
Mencintai Nabi Muhammad saw adalh suatu keharusan dan wajib hukumnya. Beliau adalah manusia luar biasa kejujurannya\, kebaikannya, kepandaiannya, dan tawaduzu’nya. Ketabahan Nabi Muhammad saw dengan sifat ramahnya , membuat orang banyak mengikuti dakwahnya, mencintai, meneladaninya , dan selalu membelanya demi agama yang hanif yang dibwahnya. Dan siapa yang mencintaia Nabi Muhammmad saw mereka akan mendapatkan kekuatan iman yang mantap dan tak tergoyahkan oleh orang-orang yang suka merusak. Lantas kenapa kita harus mencintai Nabi Muhammad saw dan apa alasanya ?
Alasan harus mencintai Nabi Muhammad Saw dalam sebuah hadist :
“Demi jiwaku yang  berada dalam kekuasaaan-Nya tidak sempruna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai aku dari pada kedua orang tuanya dan anaknya.” (diriwayatkan oleh: Al-Bukhari dari Abu Hurairah ra).
Nabi Muhammad saw benar-benar utusan Allah swt.
 

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S. 48; Al-Fath: 29)

Ada beberapa hal yang menjadikan kita harus mencintai Nabi Muhammad saw.
1.      Seorang akan dikumpulkan dengan orang yang mencintainya: seorang lelaki dari kampung datang ke Rasullah saw dan bertanya, “wahai, Rasullah kapan datangnya kiamat?” Rasullah ganti bertanya, “Apa yang telah kamu persiapkan untuk khari kiamat?” ia menjawab, “saya mencintai Allah dan Rasullah-Nya.” Kemidian Rasullah berkata, “kamu bersama orang yang kamu cintai.” Dalam kisah ini cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi modal utamauntuk masuk surga. Namun cinta bukan di lisan saja, harus ada pembuktiannya:
a.       Mentaatinya. Firman-Nya:


“Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Q.S. 3; Ali-Imran: 32).

b.      Memnuhi panggilan-Nya. Merupakan kewajiban mutlak memnuhi panggilan Allah dan Rasullah-Nya. Firman Allah:
 

 “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.” (Q.S. 8; Al-Anfal: 24).

c.       Menjadikan beliau Rasullahsebagai sumber hukum kedua. Ucapan Rasullah sebagai sumber kedua Al-Qur’an. Firman-Nya:
  

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Q.S. 5; Al-Maidah: 49-50)
d.      Bershalawat kepada Rasullah saw. Firman Allah :

 “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. 33; AL-Ahzaab: 56).

Maksud Allah bershalawat ialah memberi rahmat kepada Rasullah dan malaikat memohonkan ampunan dan orang-orang berdo’a agar diberi rahmat.
e.       Merendahkan suara disis Rasullah saw.


"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S. 49; Al-Hujarat: 2-3).

2.      Beliau adalah rahmat seluruh semesta alam: alasan selanjutnya mengapa kita harus mencintai Rasullah. “”  (Q.S. 21; Al-Anbiya: 107)
a.       Orang-orang yang beriman dan mengikutinya , mereka akan memperoleh kemulyaan dunia dan akhirat.



 “Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.” (Q.S. 93; Adh-Dhuha: 5).
b.      Orang-orang yang kafir dan memeranginya, maka kematian mereka ketika berperang melawan Rasullah saw lebih baik bagi mereka, karena semkain lama merek hidup, semakin pedih dan berat pula siksaan yang mereka aterimah kelak di akhirat.








“Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (Q.S. 3; Ali Imran: 131-132).
c.       Orang-orang yang membuat perjanjian damai dengan Rasullah saw akan hidup damai di bawah lindungan dan tanggung jawab Rasullah.
d.      Orang-orang muanfik pura-pura beriman mereka bisa hidup dengan selamat dan tenang seperti kaum muslimin yang lain.
e.       Umat – umat yang jauh dari Rasullah dan tidak sampai kepada mereka risalah dan dakwah Rasullah, maka dengan risalah yang dibawah Rasullah , Allah akan mengangkat dan menghiulangkan adzab dari seluruh penduduk bumi.
3.      Nabi Rasullah saw mencintai kita, apakah memang hati kita yang keras atau memang kita tidak mempunyai perasaan sama sekali, hingga kita lupa akan cinta Rasullah.



“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. 5; Al-Maidah: 118).

4.      Supaya tidak menjadi fasik kita harus mencintai Rasullah agar tehindar dari sifst fasik.
 



 “Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (Q.S. 9; At-Taubah: 24).
5.      Mencintai nabi adalh salah satu kesempurnaan.
“Tidak sempurna iman sesorang sehingga aku lebih dicintai dari pada anak dan orang tuanya serta semua orang.” (H.R. Bukhari dan Muslim dari shabat Nabi Anas ra).



BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, dapat di simpulkan bahwa:
AL-Qur’an adalah sumber utama kekuatan umat muslim untuk mendakwahkan ajaran-ajaran islam yang benar. Di dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan tentang kekuatan apa saja yang ada didalam Al-Qur’an yang diturunkan Allah. Allah telah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhmmad saw sebagai sumber kebenaran dan kekuatan langsung dari Allah swt. Dan al-qur’an sebagai kekuatanm umat muslim yang mustajab. Al-Qur’an sebagai penyempurna kitab-kitab allah yang terdahulu yang telah diselewengkan oleh orang-orang kafir. Sehingga Nabi Muhammad saw diperintahkan untuk berdakwah membenarkan ajaran-ajaran menyimpang. Karena didalam Al-Qur’an juga sebagai penguat kekuatan tauhid, keimana, terdapat ilmu dien serta kecintaan kita kepada Rasullah saw untuk yang harus dimiliki umat muslim. Karena dengan itu semua, Allah akan memberikan kekuatan, perlindungan, pertolongan  yang tidak pernah kita sangkah. Al-Qur’an juga sebagai petunjuk penguat  keimanan seseorang karena iman seseorang itu akan diuji oleh Allah swt. Berat tidaknya ujian itu tergantung dengan kadar keimanan. Dari firman Allah:


“Katakanlah: "Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud.” (Q.S. Al Issara 107).

Dalam Al-Qur’an, ilmu merupakan kekuatan umat muslim karena dengan ilmu orang mendaparkan perlindungan dan dalam melekukan segalanya ia akan berhati-hati yang sesuai dengan syariat.   

B.     SARAN
Pembahasan diatas, penulis dapat memebrikan saran bagi pembaca makalah ini agar menyeruhkan dakwah yang telah diperintahkan oleh Allah swt. Dengan penuh ikhlas lillahi ta’alllah. Dan mendapatkan perlindungan, ditinggikan derajatnya, serta simasukkan surga kelak di akhirat. Dan berdakwalah dengan pegangan kamu Al-Qur’an sebagai kekuatan yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammada saw, untuk umatnya..
Demikian dalam penyusunan makalah ini, penyusun menyadari masih banyak kesalah-kesalahan yang ada dalam makalah ini, oleh karena itu, kritik dan saran pembaca sangat penyusun harapkan untuk penyempurnaan makalah ini lebih lanjut.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Zulal Ibnu, Muhammad Azri.2009. The Power of Moslem in Qur’an sebuah  telaah bagi para aktivis dakwah dalm perjalanan menuju iman wal islam. Cet. 1., Yogjakarta: Nuha Litera.
Share:

Postingan Populer

Labels

Halaman Diunggulkan

LULUSAN PLS PENGANGGURAN? MITOS ATAU FAKTA

LULUSAN PLS PENGANGGURAN? MITOS ATAU FAKTA Tingginya tingkat pengangguran yang dialami oleh para lulusan perguruan tinggi me...