Sahabat pena mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah

KETERPUTUSAN SEKOLAH DAN SOLUSINYA

Berbicara soal pendidikan dan problematikanya sebenarnya luas dan banyak sekali. Mulai dari sarana dan prasarana, rendahnya kualitas guru, minimnya kesejahterahan guru, prestasi siswa yang rendah, tidak meratanya pendidikan di indonesia, mahalnya biaya pendidikan, dan lain sebagainya. Namun bila masalah tersebut dikerucutkan hingga ke daerah masing-masing akan terdapat titik fokus permasalahan yang akan dihadapi oleh setiap mahasiswa dan bagaimana cara, solusi, atau upaya untuk mengatasi masalah tersebut pun beraneka ragam.

Sejatinya, pendidikan itu adalah investasi masa depan kita walaupun tidak ada yang menjamin setiap orang yang berpendidikan itu akan selalu menjadi orang yang sukses tetapi setidaknya dengan pendidikanlah kita mempunyai modal untuk menjadi orang yang sukses. Apalagi pada era globalisasi seperti sekarang ini, pendidikan merupakan suatu kebutuhan primer, dimana orang-orang berlomba untuk dapat mengenyam pendidikan setinggi mungkin dan untuk mengembangkan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni (IPTEKS). Hal ini dilakukan agar dapat mengarungi kehidupan yang serba canggih dan dapat mengikuti kuatnya pengaruh globalisasi yang merambah seluruh bidang kehidupan.

Namun faktanya tidak semua orang di indonesia ini beranggapan bahwa pendidikan itu penting dan harus menjadi sebuah kebutuhan primer sehingga tidak jarang dari mereka yang hanya merasakan dunia pendidikan tidak sampai ke jenjang yang lebih tinggi lagi terutama di daerah tempat saya tinggal, Desa Cakru, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember. Banyak dari teman-teman saya yang belum sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) sudah putus sekolah. Ada yang bekerja, ada juga yang menikah bahkan terakhir kali saya tahu sebelum saya pergi ke Malang untuk kuliah ada siswa saya yang baru kelas VI SD sudah mau menikah padahal kurang satu minggu lagi UN tetapi dia sudah tidak mau lagi melanjutkan sekolahnya dan memilih untuk segera berumah tangga. Menanggapi hal yang seperti ini bukanlah perkara yang mudah, perlu dukungan penuh dari orang tua, guru serta seluruh lapisan elemen masyarakat termasuk peran pemerintah dalam upaya mengatasi masalah putus sekolah ini agar apa yang menjadi hak mereka untuk belajar dapat terpenuhi juga guna mengoptimalkan program wajib belajar sembilan tahun bukan hanya menjadi slogan semata tetapi benar-benar terwujud implementasinya dalan dunia pendidikan.

Faktor penyebab anak putus sekolah berdasarkan pengamatan anak yang putus sekolah disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu ekonomi, minat anak yang kurang, perhatian orang tua rendah, faktor budaya, fasilitas belajar kurang, ketiadaan sekolah/sarana, dan cacat atau kelainan jiwa. Setelah ditelusuri lebih jauh ternyata anak yang putus sekolah lebih banyak disebabkan faktor ekonomi, kemudian diikuti secara berturut-turut faktor minat anak yang rendah, perhatian orang tua yang rendah, fasilitas belajar yang minim, budaya, ketiadaan sekolah, dan kelainan jiwa/cacat.

Masalah keterputusan sekolah bila tidak diatasi dengan baik akan sangat merugikan lingkungan karena Anak-anak yang putus sekolah dapat mengganggu keamanan. Karena tidak ada kegiatan yang menentu, sehingga kadang-kadang dapat menimbulkan kelompok-kelompok pemuda liar. Anak-anak yang putus sekolah tersebut berkembang menjadi anak nakal dengan kegiatannya yang bersifat negatif, seperti mencuri, memakai narkoba, mabuk-mabukan, serta seks bebas. Akibat lainnya adalah tingginya tingkat kriminalitas seperti pencurian, pemalakan, perampokan, penipuan, merebaknya geng motor dan sebagainya. Selain itu fenomena kawin muda juga akan terjadi pada orang-orang yang putus sekolah. Salah satu fungsi sekolah adalah memperlambat kedewasaan, maka apabila seseorang tidak sekolah, kedewasaan itupun akan cepat datang karena pada akhirnya mereka akan lebih memilih untuk menikah diusia dini.

Dampak lain akan terlihat dari segi ekonomi. orang-orang yang putus sekolah atau berpendidikan rendah, akan berpenghasilan rendah pula yang berakibat pada rendahnya pendapatan perkapita negara. Selain itu merebak buruh kasar dikalangan masyarakat, orang-orang berbondong-bondong jadi TKI, serta perumahan kumuh adalah dampak lain dari putus pendidikan yang dapat kita temui di negeri yang konon “bukan lautan tapi kolam susu” ini. Dengan pendidikan yang rendah pula, banyak diantara mereka yang tidak mendapatkan pekerjaan alias kaum pengangguran dan mereka merupakan tenaga kerja yang tidak terlatih. Sedangkan masalah pengangguran ini di negara kita merupakan masalah yang sudah sedemikian hebatnya, hingga merupakan suatu hal yang harus ditangani lebih serius. Produktifitas anak putus sekolah dalam pembangunan tidak seluruhnya dapat mereka kembangkan, padahal semua anak indonesia memiliki potensi untuk maju.

Persoalan putus sekolah merupakan tantangan bagi pekerja sosial. Salah satu usaha untuk mencegah anak putus sekolah adalah dengan menyadarkan orang tua akan pentingnya pendidikan demi menjamin masa depannya dan dapat meneruskan cita-cita orang tuanya. Sebagaimana kita ketahui bahwa tidak ada orang yang memperoleh jabatan atau pangkat yang tinggi dengan tanpa adanya pendidikan sebagai modalnya. Dalam mencegah anak dari putus sekolah, orang tua perlu juga memberikan dorongan (motivasi) kepada anak dalam belajar dan memberikan bantuan kalau ada kesulitan belajar yang dialami anak. Untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah juga perlu adanya pengawasan dari orang tua terhadap kegiatan dan hasil belajar anak, guru seharusnya mampu memerankan fungsi sosialnya. Kompetensi sosial merupakan salah satu dari empat kompetensi yang harus dimiliki guru. Kompetensi lainnya adalah kompetensi pedagogik, profesional, dan kepribadian. Usaha untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah juga dapat dilakukan dengan cara tidak membiarkan anak untuk bekerja mencari uang sendiri, karena hal ini dapat melalaikan anak untuk sekolah. Di sisi lain apabila anak sering dimanjakan dan terlalu banyak diberikan uang jajan di sekolah juga dapat mengakibatkan anak malas belajar. Bahkan sering tidak masuk sekolah dan pergi bermain bersama teman-temannya, apalagi anak yang mempunyai motor dan mempunyai uang banyak ia akan bebas pergi ke mana saja.

Solusi lain bagi anak yang putus sekolah adalah dengan mengikuti progam kejar paket atau biasa disebut dengan pendidikan kesetaraan atau juga bisa dengan sekolah di sekolah terbuka. Sekolah terbuka adalah salah satu subsistem pendidikan jalur sekolah yang menggunakan prinsip belajar secara mandiri, yaitu belajar dengan bantuan seminimal mungkin dari orang lain.

Manusia pada hakekatnya adalah makluk yang dapat dididik dan memiliki hak untuk mengenyam dan memiliki pendidikan. Sehingga pada akhirnya akan berkontribusi positif terhadap pemerataan pendidikan dan pencapaian tujuan pendidikan nasional, ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, serta dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat suatu bangsa.
Share:

No comments:

Postingan Populer

Labels

Halaman Diunggulkan

LULUSAN PLS PENGANGGURAN? MITOS ATAU FAKTA

LULUSAN PLS PENGANGGURAN? MITOS ATAU FAKTA Tingginya tingkat pengangguran yang dialami oleh para lulusan perguruan tinggi me...